Leadership is Action

Leadership-as-Power

Kepemimpinan merupakan suatu konsep yang sudah sangat akrab di telinga kita, banyak sekali definisi dari para ahli mengenai konsep kepemimpinan, sebagai contoh Robbins (1996, hal 39) mengatakan bahwa kepemimpinan ialah kemampuan untuk mempengaruhi suatu kelompok ke arah tercapainya tujuan. Dalam referensi lain dikatakan bahwa kepemimpinan ialah Kemampuan interpersonal seseorang untuk mempengaruhi dan mengarahkan pihak lain melalui proses komunikasi dalam mencapai tujuan kelompok  (Weschler & Masarik, dalam  Hersey and Blanchard, 1969).

Pun ketika berbicara mengenai kepemimpinan, terdapat banyak sekali teori kepemimpinan yang muncul, umumnya kita mengenal 4 teori kepemimpinan, yaitu Trait Approach, Behavioral Approach, Situational Contingencies Approach, Charismatic Leadership, tetapi kita tidak akan membahas hal tersebut disini.

Kepemimpinan menurut saya ialah suatu aksi nyata yang dilakukan seseorang yang dilakukan secara tulus dan ikhlas demi meningkatkan derajat dirinya dan orang yang dipimpinnya dengan tercapainya tujuan bersama. Kepemimpinan ialah aksi nyata, ia bukanlah suatu teori yang dibaca dan dipahami saja, tetapi ia merupakan suatu bentuk aksi yang terlihat oleh orang lain, dan orang lain lah yang menilai apakah tindakan tersebut mengandung makna kepemimpinan atau tidak.

Mari ambil contoh dari 2 kasus berikut; Ada seorang pelajar yang menaruh minat yang tinggi atas konsep kepemimpinan, ia membeli segala buku mengenai leadership, mencari berbagai referensi tentang bagaimana menjadi seorang pemimpin, ia bertekad bahwa ketika ia selesai mempelajari itu semua maka ia akan menjadi seorang pemimpin yang luar biasa. Sayangnya, butuh waktu yang lama bagi pelajar tersebut untuk mempelajari seluruh teori dan referensi tersebut. Disisi lain terdapat seorang pemuda yang malas, yang tiba-tiba secara tidak sengaja dan kebetulan  ia dipilih menjadi seorang pemimpin di kelasnya, lantas menyadari tanggung jawabnya tersebut, ia mencoba untuk meng-indahkan kepribadiannya dengan mencoba mendengarkan pendapat rekannya, berusaha untuk datang tepat waktu dalam setiap agenda, menghilangkan keegoisan pribadinya demi tercapainya tujuan bersama, dan lain sebagainya.

Dari penjelasan diatas kita dapat mengambil kesimpulan bahwa nilai-nilai kepemimpinan yang sebenarnya dimiliki oleh pemuda yang malas, ia tidak mengetahui apapun mengenai teori-teori kepemimpinan, sebelumnya ia hanya berpikir mengenai dirinya sendiri dan tidak peduli dengan orang lain, tetapi ketika dia sadar memiliki tanggung jawab ia langsung merubah dirinya, mengaplikasikan apa yang menurutnya baik untuk dilakukan sebagai seorang pemimpin. Berbeda dengan pelajar yang pertama, meskipun ia memiliki wawasan yang baik mengenai kepemimpinan, sayangnya ia tidak mengaplikasikan hal tersebut dan menunggu hingga ia benar-benar paham mengenai apa itu pemimpin, tentu saja hal itu sama sekali tidak membuatnya menjadi seorang pemimpin.

Pemimpin ialah orang yang menyadari tanggung jawabnya dan melaksanakan apa yang menurutnya benar demi kepentingan orang lain. Ia adalah seorang yang learning by doing, karena pada dasarnya kepemimpinan bukanlah suatu yang dipelajari melainkan diaplikasikan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s