Kebersamaan dalam Menginspirasi Kebaikan :)

Kebersamaan dalam Menginspirasi Kebaikan :)

Advertisements

Ketika Amanah Bertamu

 

Image

Pernahkah kita berpikir bahwa sebenarnya kita bukanlah orang yang tepat dalam suatu posisi tertentu? Atau pernahkah kita mentargetkan suatu hal, akan tetapi akhirnya kita menempati posisi yang lain? Atau mungkin ketika kita tiba-tiba berada dalam suatu posisi yang sama sekali tidak pernah kita bayangkan dan inginkan sama sekali?

Banyak hal yang terjadi diluar dari rencana dan target awal yang telah kita tentukan, bahkan mungkin bisa dibilang tidak masuk kedalam logika sederhana kita. Ketidakpercayaan diri dan keraguan adalah hal pertama yang langsung menari dalam pikiran para calon penerima amanah. Tak jarang keraguan dalam diri menenggelamkan rasionalitas berpikir dalam mengambil keputusan.

Namun apakah keraguan ini benar adanya ataukah hanya pembelaan diri atas ketidakmauan kita untuk memikul sebuah amanah yang tidak kita inginkan? Tentunya kita akan memiliki sejuta alasan untuk menolak dan menyatakan tidak pada amanah yang diberikan kepada kita ketika kita merasa ragu dan tidak yakin terhadap kesanggupan diri kita, tetapi mungkin kita harus merenungkan kembali terkait dengan hakikat diberikannya suatu amanah.

Sejatinya Tuhan tidak akan memberikan ujian melebihi kemampuan dari hamba-Nya, termasuk amanah yang diberikan kepada kita. Sesuatu yang kita anggap baik belum tentu baik di mata Tuhan, dan begitu pula sebaliknya. Kita mungkin mengetahui kemampuan diri kita sendiri, akan tetapi bukankah Tuhan Maha Mengetahui?

Maka ketika mendapatkan suatu amanah, ingatlah bahwa yang memberikan amanah itu bukanlah kerabat kita ataupun atasan kita, melainkan Tuhan yang mengetahui segalanya, yang mengetahui bahwa diri ini sebenarnya telah siap, yang mengetahui bahwa kapasitas kita telah mumpuni, dan mengetahui bahwa kelak amanah ini akan dapat dilaksanakan dengan baik ditangan kita.

Prinsipnya ialah jangan pernah meminta amanah, biarkan ia mencari tuannya sendiri, mencari orang yang paling tepat untuknya dirinya bertamu, mencari pemuda-pemuda pemberani yang akan membawanya ke puncak kemenangan, karena amanah tidak akan pernah salah memilih orang yang akan memikulnya.

Ketika amanah bertamu, maka mantapkanlah diri ini, persiapkan dengan sebaik mungkin, dan luruskan niat hanya untuk mencapai ridho-Nya. Mungkin awalnya kita akan takut dan banyak memiliki prasangka negatif kedepannya akan seperti apa, akan tetapi diam, mengeluh, dan tidak bergerak, bukanlah solusi, lakukan saja yang terbaik maka kita akan mendapatkan hasil yang terbaik.

Biarkanlah amanah ini nyaman berada dalam diri kita, perlakukanlah ia dengan baik layaknya seorang tuan rumah yang melayani tamunya hingga akhirnya amanah ini pun pergi dengan rasa kebahagiaan karena kita telah memperlakukannya dengan sebaik mungkin meskipun dengan berbagai keterbatasan yang kita miliki. 

 

(Mungkin) Berani Korup itu Hebat?!

Image

Korupsi merupakan permasalahan yang mungkin telah membuat masyarakat lelah dan putus asa dengan hal tersebut. Entah apakah korupsi ini telah menjadi budaya di Indonesia atau sengaja dibudayakan oleh opnum-opnum tertentu. Berdasarkan data yang didapat dari anti corruption clearing house (ACCH) per 31 Agustus 2013, di tahun 2013 KPK melakukan penyelidikan 55 perkara, penyidikan 51 perkara, penuntutan 21 perkara, inkracht 24 perkara, dan eksekusi 32 perkara. Artinya jumlah penyelidikan dan eksekusi masih jauh berbeda, belum lagi dengan masih banyaknya kasus korupsi yang belum terbongkar. Lamanya proses hukum, dan penegakan hukum yang lemah di Indonesia seakan menjadi lahan potensial bagi mereka yang ingin melakukan korupsi. Ironisnya aktor-aktor yang tertangkap korupsi merupakan wakil dari rakyat yang menjabat di ranah publik dimana mereka seharusnya menyuarakan dan melindungi kepentingan rakyat, bukan menggunakan hak rakyat demi memuaskan kepentingan pribadi.

Jargon KPK yang berbunyi, “Berani jujur hebat!” seakan menjadi sebuah jargon belaka yang sampai saat ini terkesan utopis. Kita sendiri telah melihat bagaimana kejujuran akhirnya berakhir dengan ketidakadilan seperti pada kasus dimana seorang anak melaporkan kecurangan dalam ujian nasional kepada pemerintah, tapi akhirnya sang anak dan orang tuanya bukan diberikan apresiasi lebih oleh masyarakat, melainkan mendapatkan intimidasi dan dikucilkan dari masyarakat. Kejujuran menjadi hal yang sangat sulit ditemukan di Negeri yang katanya sedang beranjak maju ini. Kejujuran ialah nilai yang sangat penting dan mendesak, tetapi disisi lain ketika kita berkata berani jujur hebat, menegaskan bahwa jumlah orang yang jujur di Negeri ini sangatlah sedikit, dan mereka yang jujur adalah orang-orang yang sangat hebat. Tentu ini hanya menegaskan suatu kemirisan yang terjadi, karena idealnya jujur adalah hal yang biasa ketika semua orang bisa bersikap jujur.

Mungkin akan lebih tepat ketika kita merubah paradigma kita dengan mengatakan bahwa justru “Berani Korup Hebat!” Ketika kita mengatakan orang yang berani korup itu hebat, artinya jumlah korupsi yang terjadi sangatlah sedikit. Orang-orang yang ingin melakukan korupsi akan berpikir dua hingga tiga kali, mengingat penegakan hukum yang sangat tegas, sanksi yang berat, pengawasan yang ketat, proses hukum yang tidak memandang bulu, dan belum lagi ditambah dengan sanksi sosial oleh masyarakat yang sangat berat. Maka jika terjadi kondisi yang seperti itu, hanya orang-orang yang memiliki mental yang kuat dan rasa ketidakmaluan yang sangat tinggi yang cukup hebat untuk berani melakukan korupsi.