Memaknai Semangat Idul Qurban

kartun-potong-qurban

Gugus bintang berganti dengan sinar hangat sang mentari, derik jangkrik yang menemani malam pun akhirnya berganti dengan melodi nada kicau burung yang merdu, membuka mata dan menyadarkan raga bahwa hari telah membuka lembaran barunya. Embun air di dedaunan lantas menyegarkan pandanganku dan desir angin yang mengalir sejuk ketika kubuka jendela rumah seakan mengajakku untuk segera keluar dan menikmati kesegaran pagi yang telah diberikan-Nya secara cuma-cuma. Begitulah nikmat yang Allah berikan mengawali rutinitas keseharianku.

Hari ini berbeda dengan hari-hari sebelumnya, nampak nuansa yang berbeda ketika aku menjalankan aktivitas keseharianku. Mengiringi perjalananku menuju kampus untuk menimba ilmu, sentak mulai tercium bau khas hewan ternak, tepi jalan yang biasanya sepi dan menjadi tempat kendaraan bermotor mencuri lahan untuk menghindari kemacetan, bertransformasi dengan berdirinya bambu-bambu yang tersusun rapi dan tumpukan jerami yang diatur sedemikian rupa, sehingga terciptalah rumah tinggal sementara untuk hewan ternak. Pemandangan itu kemudian menyadarkanku bahwa tidak lama lagi akan tiba suatu hari yang istimewa, hari yang setiap tahun bertamu, berkunjung ke pelataran kehidupan umat muslim, hari di mana di dalamnya terkandung makna pengorbanan yang luar biasa, hari di mana mereka yang tidak mampu pun bisa menikmati makanan yang jarang mereka rasakan, ya itulah Idul Adha/Idul Qurban.

Aku sedikit bersedih karena untuk saat ini aku belum bisa melakukan Qurban atas kemampuanku sendiri, karena itulah amalan yang paling dicintai Allah pada saat hari raya Qurban, sebagaimana tertuang dalam hadist At-Tirmidzi yang meriwayatkan dari ‘Aisyah r.a. bahwa Nabi saw. bersabda:

“Tidak ada suatu amalan pun yang dilakukan oleh manusia pada hari Raya Qurban, lebih dicintai Allah selain dari menyembelih hewan Qurban. Sesungguhnya hewan qurban itu kelak di hari Kiamat akan datang beserta tanduk-tanduknya, bulu-bulunya dan kuku-kukunya, dan sesungguhnya sebelum darah qurban itu menyentuh tanah, ia (pahalanya) telah diterima di sisi Allah, maka beruntunglah kalian semua dengan (pahala) qurban itu.” (HR Tirmidzi)

Meskipun demikian, setidaknya kita harus memahami semangat dari Idul Qurban ini sendiri:

Pertama ialah mengenai semangat pengorbanan dan kesabaran yang dengan sangat indah telah tertuang dalam kisah Nabi Ibrahim AS dan anaknya Nabi Ismail AS (QS Ash-Shaffat: 102–107). Peristiwa tersebut menjadi kesan yang sangat mendalam bagiku, Nabi Ismail ialah buah hati yang telah ditunggu bertahun-tahun oleh Nabi Ibrahim AS, tentunya rasa cinta yang sangat mendalam kemudian tertuangkan kepada Nabi Ismail ketika ia lahir. Singkat cerita Nabi Ibrahim diwahyukan untuk menyembelih anak yang sangat disayangi itu, dan Nabi Ismail pun menerima dengan penuh kesabaran, kemudian ketika hendak disembelih akhirnya Nabi Ismail digantikan dengan seekor domba. Dengan demikian Nabi Ibrahim telah lolos dalam ujian yang Allah berikan. Dari kisah tersebut kita dapat mengambil hikmah bahwa kasih sayang kepada Allah ialah hal yang paling utama, dan kita harus sabar atas segala cobaan yang kita hadapi.

Kedua ialah semangat solidaritas dan menggembirakan kaum muslimin. Idul Qurban memberikan pemaknaan bagi kita mengenai konsep berbagi dan solidaritas. Pada hari yang mulia itu seluruh masyarakat baik yang mampu maupun tidak mampu memiliki kesempatan yang sama untuk menikmati daging qurban, bersama-sama berbagi kebahagiaan dengan menikmati daging qurban yang dibagikan. Bentuk solidaritas kemanusiaan ini pun terefleksikan ketika jamaah haji sedang wuquf di Arafah, umat muslim yang lain melaksanakan puasa Arafah. Perintah berkurban bagi yang mampu menunjukkan bahwa sejatinya Islam ialah agama yang sangat memperhatikan kesejahteraan fakir miskin dan kaum dhuafa lainnya. Hal ini akan mempertebal rasa kemanusiaan, mengasah kepekaan sosial dan saling menyayangi antar sesama.

Ketiga ialah semangat untuk menegakkan syiar-syiar Allah. Hal yang mendasarinya ialah firman Allah dalam surat Al Hajj: 36,

“Dan telah Kami jadikan untuk kamu unta-unta itu sebahagian dari syiar Allah, kamu memperoleh kebaikan yang banyak padanya, maka sebutlah olehmu nama Allah ketika kamu menyembelihnya”.(Q.S. Al-Hajj: 36).

Idul qurban sebagai sarana yang Allah berikan kepada umat Islam untuk mensyiarkan keindahan dan kebaikan Islam kepada seluruh umat di dunia. Lantas kemudian bagaimana kita nantinya dapat memanfaatkan momen tersebut untuk menyentuh seluruh kalangan dengan kasih sayang dan kecintaan kita terhadap umat.

Matahari senja sudah semakin menguning, burung-burung di langit mulai berterbangan seakan mengucap salam perpisahan, bayang-bayang rembulan pun mengintip dengan tersipu malu, sungguh rasanya tak sabar untuk bertemu dengan hari yang mulia itu, bayang-bayang lantunan takbir diiringi dengan tabuhan bedug yang menggema menambah semaraknya hari raya, suara takbir yang bersahut sahutan menemani malam, dan nuansa berbagi daging hewan qurban kepada seluruh masyarakat, kemudian terlintas dipikiranku seakan mengajak diri ini untuk sejenak merefleksikan bahwa tidak ada yang agung, dan layak untuk disembah kecuali Allah, Tuhan semesta alam.

Advertisements

Kisah Perang Tabuk

images (1)

Referensi: Sirah Nabawiyah- Syaikh Shafiyyurrahman Al-Mubarakfuri

Pasca penaklukan Mekkah, tidak ada lagi tempat untuk meragukan dan menyangsikan risalah Rasulullah di seluruh jazirah Arab, bahkan berbondong-bondong masyarakat masuk kedalam agama Allah. Hanya saja masih ada satu kekuatan imperium besar yang masih menghadang perjalanan umat Muslim yaitu kekuatan Romawi, kekuatan militer terbesar di muka bumi pada zaman itu. Latar belakang penyebab perang Tabuk ialah dengan terbunuhnya duta Rasulullah Al Harits bin Umair ditangan Syurahbil bin Amr Al-Ghazanni, saat Al Harits membawa surat beliau yang ditujukan kepada pemimpin Bushra. Setelah itu beliau mengirimkan satuan pasukan yang dipimpin oleh Zaid bin Haritsah yang kemudian bertempur melawan Romawi di Mut’ah, dengan tanpa membawa hasil yang berarti. Romawi akhirnya membuat pilihan bahwa tidak ada alasan lagi melainkan untuk bertempur melawan orang-orang Muslim sebelum kekuatan mereka semakin berkembang dan mempengaruhi kekuasaan Romawi. Disisi lain di kalangan kaum muslimin tersebar informasi yang masih simpang siur mengenai persiapan pasukan Romawi untuk menyerang, sehingga muncul kekhawatiran dan kegundahan di hati kaum muslimin. Keadaan ini semakin diperparah dengan keberadaan orang-orang munafik yang seakan menggigit dari dalam, mereka telah melihat segala kekuatan yang dimiliki kaum muslimin, meskipun demikian mereka masih ingin mewujudkan kehancuran bagi Islam dan para pemeluknya, dan mereka melihat kekuatan Romawi ialah peluang yang sangat besar untuk menghancurkan Islam

Tersebar kabar Heraklius Raja Romawi telah menyiapkan 40.000 prajurit yang dipimpin oleh salah seorang pembesar Romawi, disamping ancaman diam diam dari orang munafik saat itu, keadaan semakin diperparah karena saat itu bertepatan dengan musim kemarau yang amat panas dan kering. Orang-orang menghadapi keadaan yang lebih sulit dan jarang menampakkan diri. Sementara buah-buah juga mulai masak, sehingga mereka lebih suka berada di kebun kebun buah dan keteduhan pepohonannya. Jarak yang amat jauh mereka harus tempuh jika harus berperang dengan pasukan Romawi. Rasulullah memandang bahwa keadaan dan perkembangan yang ada harus disikapi dengan bijaksana, apabila beliau bermalas-malasan dan menghindar dari Romawi maka Romawi akan dapat menjarah wilayah-wilayah yang telah tunduk kepada Islam, sehingga akhirnya Rasulullah pun mengambil sikap untuk bersiap berperang dan menyeru kepada seluruh kaum muslimin untuk siap berjihad dan mengeluarkan harta mereka. Setelah mendengar seruan Rasulullah kaum muslimin berlomba-lomba dalam melakukan persiapan perang, tak seorang pun orang muslim rela apabila dia sampai ketinggalan dalam peperangan kali ini, kecuali orang-orang yang dalam hatinya ada penyakit. Disamping berlomba-lomba dalam melakukan persiapan, mereka juga berlomba dalam menafkahkan harta dan mengeluarkan sedekah, Utsman dengan sekitar 900 onta dan 100 kuda, serta 1000 dinar, Abdurrahman bin Auf dengan 200 uqiyah perak, Abu Bakar dengan seluruh hartanya dan tidak menyisakan bagi keluarganya melainkan Allah dan Rasulnya, yang senilai 4000 dirham, Umar dengan separuh hartanya, dan masih banyak sahabat yang lain yang juga memberikan sedekah terbaiknya.

Pada hari Kamis, Rasulullah mulai bergerak ke Tabuk dengan membawa sebanyak 30.000 pasukan, 100 kali lipat dari jumlah pasukan ketika di Perang Badr. Mengingat jumlah pasukan yang sangat besar, maka persiapan dianggap masih kurang sempurna, sekalipun cukup bnyak sedekah yang sudah dikeluarkan. Pasukan Islam akhirnya tiba di Tabuk, dan siap untuk bertempur, Rasulullah berdiri dihadapan pasukan dan menyampaikan pidato penuh semangat dengan kata-kata yang memiliki kandungan makna yang sangat luas, menganjurkan kepada kebaikan dunia dan akhirat, memberi peringatan dan ancaman, serta memberikan kabar gembira dan kabar yang menyenangkan. Sebaliknya ketika pasukan Romawi mendengar bahwa Rasulullah telah menggalang pasukan, muncul ketakutan dan kekhawatiran yang merambat hati mereka, sehingga mereka tidak berani maju atau langsung merencanakan serangan. Mereka berpencar-pencar dibatas wilayah mereka sendiri. Karena itu Rasulullah didatangi Yuhannah bin Ru’bah, pemimpin Ailah yang menawarkan perjanjian perdamaian dengan beliau dan siap menyerahkan jizyah kepada beliau. Begitu pula yang dilakukan penduduk Jarba’ dan Adruj. Satu persatu berbagai kabilah yang tunduk kepada Romawi akhirnya mengambil keputusan untuk berbalik mendukung kaum muslimin, mereka meyakini bahwa para pemimpin sebelumnya yang tunduk kepada Romawi telah membuat langkah yang salah dan kini sudah habis masanya. Sehingga peperangan pun dimenangkan kaum muslimin tanpa secara harfiah melakukan adu pedang atau saling bunuh, kabilah-kabilah Romawi satu per satu tunduk melihat kekuatan kaum Muslimin yang begitu besar, dengan demikian wilayah kekuasaan pemerintahan Islam semakin bertambah luas, hingga langsung berbatasan dengan wilayah kekuasaan bangsa Romawi.

Pasukan Islam meninggalkan Tabuk dengan membawa kemenangan tanpa mengalami tekanan sedikitpun, dalam perjalanan ini Allah telah mencukupkan peperangan bagi orang-orang mukmin. Keberangkatan beliau ke Tabuk pada bulan Rajab dan pulang dari sana pada bulan Ramadhan. Peperangan ini memakan waktu selama 50 hari, di Tabuk 20 hari sedangkan sisanya dihabiskan di perjalanan pulang pergi, dan ini ialah peperangan Beliau yang terakhir kali. Orang-orang yang tidak ikut serta tetapi didalam hatinya masih terdapat keimanan seperti Ka’b bin Malik, Murarah bin Rabi’, dan Hilal bin Umayyah mendapatkan hukuman dengan melarang sahabat untuk berbicara kepada mereka bertiga, dan mereka mendapatkan hukuman pengucilan. Namun setelah beberapa hari lamanya, seiring dengan turunnya Surat At Taubah: 18, Allah menerima taubat mereka. Peperangan ini mempunyai pengaruh yang sangat besar bagi pamor orang-orang mukmin dan menguatkan mereka di jazirah Arab. Kini orang-orang mulai menyadari bahwa tidak ada satu kekuatan kecuali kekuatan Islam. Sisa harapan dan angan-angan yang masih bersemayam di hati orang-orang munafik dan jahiliyah mulai sirna. Sebelumnya mereka masih berharap banyak terhadap pasukan Romawi untuk melumat pasukan Muslimin, namun setelah peperangan ini, membuat mereka sudah kehilangan nyali dan pasrah terhadap kekuatan yang ada, karena mereka sudah tidak mempunyai celah dan peluang untuk melakukan konspirasi.

Kisah Perang Uhud

Uhud-Mountain-View

Referensi: Sirah Nabawiyah- Syaikh Shafiyyurrahman Al-Mubarakfuri

Kekalahan kaum kafir quraisy pada perang Badr melatarbelakangi tercetusnya perang Uhud, dimana kaum quraisy merasakan dendam yang sangat luar biasa dan ingin menuntut balas atas kekalahannya di Perang Badr. Mereka lantas mengumpulkan semua orang quraisy untuk menyumbangkan hartanya untuk melawan Muhammad, dan melakukan berbagai macam persiapan yang dibutuhkan untuk membalas dendam. Genap setahun, persiapan telah matang, komandan tertinggi dipegang oleh Abu Sufyan bin Harb, komandan pasukan kuda dipimpin oleh Khalid bin Walid dibantu Ikrimah bin Abu Jahl, dan bendera diberikan kepada Bani Abdid-Dar. Hewan pengangkut dalam pasukan Mekkah ini ada tigaribu onta, penunggang kuda ada dua ratus, dan yang mengenakan baju besi ada tujuh ratus orang.

Menanggapi situasi tersebut, mata-mata kaum Muslimin Al-Abbas bin Abdul Muththalib segera mengabarkan kepada Rasulullah di Madinah, sehingga Madinah berada dalam keadaan siaga satu. Rasulullah kemudian menggelar rapat untuk menentukan strategi yang akan dilakukan, awalnya beliau mengusulkan untuk menetapkan strategi defensive di Madinah, akan tetapi para sahabat yang lain lebih sepakat untuk melawan dan keluar dari Madinah. Sehingga akhirnya Rasulullah mengabaikan pendapatnya sendiri dan mengikuti pendapat mayoritas. Rasulullah membagi pasukannya menjadi tiga kelompok, yaitu:

  1. Kelompok Muhajirin, yang benderanya diserahkan kepada Mush’ab bin Umair Al Abdari
  2. Kelompok Aus, yang benderanya diserahkan kepada Usaid bin Hudhair
  3. Kelompok Khazraj, yang benderanya diserahkan kepada Al-Hubab bin Al-Mundzir Al Jamuh

Pasukan terdiri atas seribu prajurit, seratus prajurit mengenakan baju besi, dan lima puluh penunggang kuda. Menjelang pertempuran, sesaat sebelum fajar selagi shalat subuh hampir dilaksanakan dan musuh sudah dapat terlihat, tiba-tiba Abdullah bin Ubay membelot, sehingga tidak kurang dari sepertiga anggota pasukan menarik diri. Hal ini mencerminkan kemunafikan Abdullah bin Ubay karena dengan mundurnya sepertiga pasukan, maka diharapkan pasukan kaum muslimin jatuh mentalnya, sementara keberanian musuh semakin meningkat, sehingga akan mempercepat kehancuran Rasulullah dan sahabat. Akan tetapi hal tersebut nyatanya tidak menggetarkan semangat kaum muslimin atas izin Allah semangat kaum muslimin pun semakin membara. Setelah pengunduran diri kelompok Abdullah bin Umay, maka pasukan kaum muslimin hanya tersisa 700 prajurit. Di kaki bukit Uhud, Rasulullah kemudian membagi tugas pasukannya, ditunjukklah Abdullah bin Jubair bin An-Nu’man Al-Anshari Al-Ausi sebagai komandan datasemen pemanah yang menempati posisi diatas bukit. Beliau bersabda kepada pemimpin mereka, “Lindungilah kami dengan anak panah, agar musuh tidak menyerang kami dari arah belakang. Tetaplah di tempatmu, entah kita diatas angin ataupun terdesak, agar kita tidak diserang dari arahmu.” Selain itu Rasulullah juga telah mengatur untuk menjaga sayap kanan pasukan, menghadang kavaleri Quraisy yang dipimpin oleh Khalid bin Walid, serta barisan terdepan pasukan dipimpin oleh tokoh-tokoh gagah perkasa yang kemampuannya bisa disamakan dengan seribu orang. Sebelum pecah peperangan, pihak Quraisy berusaha menciptakan perpecahan dalam barisan kaum muslimin dengan mengirimkan surat yang berisikan, “Biarkanlah kami dengan anak paman kami, dan setelah itu kami akan pulang tanpa mengusik kalian, karena tidak ada gunanya kami memerangi kalian”. Akan tetapi sungguh keimanan kaum muslimin yang kuat tak tergoyahkan layaknya gunung, sehingga surat tersebut justru dibalas dengan balasan yang pedas. Disisi lain wanita-wanita Quraisy ikut memberikan semangat kepada pasukan Quraisy dengan melantunkan syair-syair, menabuh rebana, dan menggerakkan pasukan untuk terus berperang.

Akhirnya pertempuran pun meletus setelah duel antara Thalhah dari kaum Musyrikin dengan Az-Zubair dari kaum muslimin yang dimenangkan oleh Az-Zubair, setelah duel tersebut pertempuran semakin memanas terutama disekitar bendera. Sepuluh orang dari Bani Abdir-Dar yang bergantian memegang bendera kaum Musyrikin satu persatu berhasil dikalahkan oleh tokoh-tokoh kaum muslimin seperti Hamzah bin Abdul Muththalib, Sa’d bin Abi Waqqash, Ali bin Abu Thalib, Ashim bin Tsabit bin Abu Al-Aqlah dan Quzman. Pertempuran terus berkecamuk disetiap kancah peperangan, sementara iman menguasai barisan orang-orang muslim. Mereka menyerbu ke tengah pasukan musyrik layaknya air bah yang menjebol tembok bangunan. Ditengah pertempuran singa Allah Hamzah bin Abdul Muthalib terbunuh oleh Wahsy bin Harb seorang budak dari Jubair bin Muth’im. Wahsy mengikuti perang hanya bertujuan untuk membunuh Hamzah, karena jika ia berhasil membunuh Hamzah maka ia akan dimerdekakan oleh Tuannya, maka ketika ia berhasil membunuh Hamzah, ia langsung keluar dari peperangan. Sekalipun pasukan muslimin mengalami kerugian besar dengan terbunuhnya Singa Allah Hamzah, akan tetapi mereka tetap mampu menguasai keadaan, Abu Bakar, Umar bin Al-Khattab, Ali bin Abu Thalib, Az Zubai bin Al Awwam, Mush’ab bin Umar, dan tokoh muslimin lainnya menjadi penggerak utama yang berhasil memojokkan kaum Quraisy. Singkat cerita akhirnya kaum Quraisy kehabisan tenaganya, dan terpukul mundur oleh desakan kaum muslimin, akan tetapi ditengah kemenangan kaum muslimin, ternyata terjadi kesalahan fatal yang dilakukan oleh tim pemanah, ketika mereka melihat pasukan muslimin mengambil ghanimah yang ada di medan pertempuran, tim pemanah pun ikut tergoda dan pergi dari pos yang sudah diperintahkan oleh Rasulullah, padahal perintahnya ialah untuk tetap berada di atas bukit baik dalam keadaan menang ataupun kalah, hanya tinggal Abdullah bin Ubair dan Sembilan rekannya yang ada di bukit Uhud. Melihat celah tersebut, kaum Quraisy dipimpin oleh Khalid bin Walid memanfaatkan peluang tersebut, dan kembali menyerang kaum muslimin melalui atas bukit Uhud, hingga akhirnya kaum muslimin terdesak. Kaum muslimin kemudian terporak porandakan barisannya, dan akhirnya banyak sahabat yang syahid akibat hal tersebut, bahkan Rasulullah pun mencapai saat yang paling kritis dalam kehidupannya, gigi seri dan gigi taring beliau pecah, kepala dan bahu beliau pun terluka.

Dengan kondisi demikian, para sahabat segera mendatangi Rasulullah dan melindungi beliau, kaum muslimin pun akhirnya mundur. Melihat kaum muslimin mundur, kaum Quraisy merasa sudah menang dan tidak mengejarnya lagi bahkan tersebar kabar bahwa Rasulullah telah mati, sehingga semakin meningkatkan kesenangan kaum Quraisy dan kehilangan semangat untuk bertempur lagi. Dalam beberapa riwayat dikatakan bahwa korban yang mati dikalangan kaum muslimin ialah 70 orang, sedangkan dikalangan kaum musyrik ialah 20 orang. Meskipun demikian perang Uhud ini masih belum selesai, ternyata kesalahan fatal yang dilakukan oleh kaum Quraisy ialah tidak segera menghabisi seluruh kaum muslimin yang tengah terpojokkan saat itu, sehingga Abu Sufyan pun bukannya mendapatkan pujian, tetapi hinaan karena tidak berhasil mengalahkan seluruh kaum muslimin ketika mereka sedang kalah, menyadari hal itu Abu Sufyan pun akhirnya mengajak seluruh pasukan Quraisy yang lain untuk kembali ke Madinah untuk mengalahkan kaum Muslimin. Disaat yang sama, Rasulullah menunjukkan kecerdikan perang yang luar biasa yaitu dengan mengirimkan utusan yang mengatakan bahwa Muhammad pergi bersama rekan-rekannya dengan jumlah yang tidak pernah sebanyak itu, mereka marah meradang kepada kalian. Diriwayat lain dikatakan, dalam kondisi yang penuh luka, Rasulullah meningkatkan semangat kaum muslimin dan mengajak untuk menyerang kaum Quraisy yang saat itu mau menyerang kembali. Melihat kepulan debu yang sangat besar, kaum Quraisy menjadi gemetar dan akhirnya mereka mundur dan kembali ke Mekkah.

Dengan demikian, Perang Uhud ini menjadi perang yang tidak tuntas, masing-masing pihak mendapatkan kemenangan dan kerugian masing-masing. Apalagi kedua belah pihak menahan diri untuk tidak saling menyerang. Masing-masing pihak merasa mendapatkan keuntungan dan juga dapat menimpakan kerugian kepada pihak yang lain, sehingga kedudukan menjadi imbang. Kemudian kedua belah pihak pulang dan masing-masing merasa menang.

Hikmah yang dapat diambil dari kisah Uhud ini ialah:

  1. Memperlihatkan kepada orang-orang Mukmin akibat yang tidak menguntungkan dari kedurhakaan dan melanggar larangan. Tepatnya ialah tindakan para pemanah yang meninggalkan posnya di atas bukit, padahal Rasulullah telah memerintahkan untuk tidak meninggalkan tempat itu bagaimanapun keadaannya
  2. Jika diberikan kemenangan terus menerus, maka akan sulit untuk menemukan orang-orang yang munafik, tetapi dengan kejadian ini maka terlihat dengan jelas siapa siapa saja yang munafik sehingga kaum muslimin bisa menjadi lebih waspada.
  3. Kemenangan yang tertunda seringkali meremukkan jiwa dan meluluhkan kehebatan yang dirasakan. Namun orang-orang mukmin tetap sabar saat mendapatkan cobaan, sedangkan orang-orang munafik menjadi risau.
  4. Allah telah menyediakan bagi hamba-hambaNya yang mukmin kedudukan yang mulia di sisi-Nya, yang tidak bisa dicapai begitu saja. Tetapi Dia perlu menguji dan mencoba mereka, sebagai jalan bagi mereka untuk mencapai kedudukan tersebut.
  5. Mati syahid merupakan kedudukan para penolong agama Allah yang paling tinggi. Inilah yang dikehendaki Allah bagi mereka
  6. Allah ingin menghancurkan musuh-musuh-Nya, dengan menampakkan sebab-sebab yang memang menguatkan kekufuran mereka, karena mereka menyiksa para penolong-Nya. Dengan begitu, dosa orang-orang Mukmin terhapus dan dosa orang-orang kafir semakin menumpuk.