Kisah Perang Uhud

Uhud-Mountain-View

Referensi: Sirah Nabawiyah- Syaikh Shafiyyurrahman Al-Mubarakfuri

Kekalahan kaum kafir quraisy pada perang Badr melatarbelakangi tercetusnya perang Uhud, dimana kaum quraisy merasakan dendam yang sangat luar biasa dan ingin menuntut balas atas kekalahannya di Perang Badr. Mereka lantas mengumpulkan semua orang quraisy untuk menyumbangkan hartanya untuk melawan Muhammad, dan melakukan berbagai macam persiapan yang dibutuhkan untuk membalas dendam. Genap setahun, persiapan telah matang, komandan tertinggi dipegang oleh Abu Sufyan bin Harb, komandan pasukan kuda dipimpin oleh Khalid bin Walid dibantu Ikrimah bin Abu Jahl, dan bendera diberikan kepada Bani Abdid-Dar. Hewan pengangkut dalam pasukan Mekkah ini ada tigaribu onta, penunggang kuda ada dua ratus, dan yang mengenakan baju besi ada tujuh ratus orang.

Menanggapi situasi tersebut, mata-mata kaum Muslimin Al-Abbas bin Abdul Muththalib segera mengabarkan kepada Rasulullah di Madinah, sehingga Madinah berada dalam keadaan siaga satu. Rasulullah kemudian menggelar rapat untuk menentukan strategi yang akan dilakukan, awalnya beliau mengusulkan untuk menetapkan strategi defensive di Madinah, akan tetapi para sahabat yang lain lebih sepakat untuk melawan dan keluar dari Madinah. Sehingga akhirnya Rasulullah mengabaikan pendapatnya sendiri dan mengikuti pendapat mayoritas. Rasulullah membagi pasukannya menjadi tiga kelompok, yaitu:

  1. Kelompok Muhajirin, yang benderanya diserahkan kepada Mush’ab bin Umair Al Abdari
  2. Kelompok Aus, yang benderanya diserahkan kepada Usaid bin Hudhair
  3. Kelompok Khazraj, yang benderanya diserahkan kepada Al-Hubab bin Al-Mundzir Al Jamuh

Pasukan terdiri atas seribu prajurit, seratus prajurit mengenakan baju besi, dan lima puluh penunggang kuda. Menjelang pertempuran, sesaat sebelum fajar selagi shalat subuh hampir dilaksanakan dan musuh sudah dapat terlihat, tiba-tiba Abdullah bin Ubay membelot, sehingga tidak kurang dari sepertiga anggota pasukan menarik diri. Hal ini mencerminkan kemunafikan Abdullah bin Ubay karena dengan mundurnya sepertiga pasukan, maka diharapkan pasukan kaum muslimin jatuh mentalnya, sementara keberanian musuh semakin meningkat, sehingga akan mempercepat kehancuran Rasulullah dan sahabat. Akan tetapi hal tersebut nyatanya tidak menggetarkan semangat kaum muslimin atas izin Allah semangat kaum muslimin pun semakin membara. Setelah pengunduran diri kelompok Abdullah bin Umay, maka pasukan kaum muslimin hanya tersisa 700 prajurit. Di kaki bukit Uhud, Rasulullah kemudian membagi tugas pasukannya, ditunjukklah Abdullah bin Jubair bin An-Nu’man Al-Anshari Al-Ausi sebagai komandan datasemen pemanah yang menempati posisi diatas bukit. Beliau bersabda kepada pemimpin mereka, “Lindungilah kami dengan anak panah, agar musuh tidak menyerang kami dari arah belakang. Tetaplah di tempatmu, entah kita diatas angin ataupun terdesak, agar kita tidak diserang dari arahmu.” Selain itu Rasulullah juga telah mengatur untuk menjaga sayap kanan pasukan, menghadang kavaleri Quraisy yang dipimpin oleh Khalid bin Walid, serta barisan terdepan pasukan dipimpin oleh tokoh-tokoh gagah perkasa yang kemampuannya bisa disamakan dengan seribu orang. Sebelum pecah peperangan, pihak Quraisy berusaha menciptakan perpecahan dalam barisan kaum muslimin dengan mengirimkan surat yang berisikan, “Biarkanlah kami dengan anak paman kami, dan setelah itu kami akan pulang tanpa mengusik kalian, karena tidak ada gunanya kami memerangi kalian”. Akan tetapi sungguh keimanan kaum muslimin yang kuat tak tergoyahkan layaknya gunung, sehingga surat tersebut justru dibalas dengan balasan yang pedas. Disisi lain wanita-wanita Quraisy ikut memberikan semangat kepada pasukan Quraisy dengan melantunkan syair-syair, menabuh rebana, dan menggerakkan pasukan untuk terus berperang.

Akhirnya pertempuran pun meletus setelah duel antara Thalhah dari kaum Musyrikin dengan Az-Zubair dari kaum muslimin yang dimenangkan oleh Az-Zubair, setelah duel tersebut pertempuran semakin memanas terutama disekitar bendera. Sepuluh orang dari Bani Abdir-Dar yang bergantian memegang bendera kaum Musyrikin satu persatu berhasil dikalahkan oleh tokoh-tokoh kaum muslimin seperti Hamzah bin Abdul Muththalib, Sa’d bin Abi Waqqash, Ali bin Abu Thalib, Ashim bin Tsabit bin Abu Al-Aqlah dan Quzman. Pertempuran terus berkecamuk disetiap kancah peperangan, sementara iman menguasai barisan orang-orang muslim. Mereka menyerbu ke tengah pasukan musyrik layaknya air bah yang menjebol tembok bangunan. Ditengah pertempuran singa Allah Hamzah bin Abdul Muthalib terbunuh oleh Wahsy bin Harb seorang budak dari Jubair bin Muth’im. Wahsy mengikuti perang hanya bertujuan untuk membunuh Hamzah, karena jika ia berhasil membunuh Hamzah maka ia akan dimerdekakan oleh Tuannya, maka ketika ia berhasil membunuh Hamzah, ia langsung keluar dari peperangan. Sekalipun pasukan muslimin mengalami kerugian besar dengan terbunuhnya Singa Allah Hamzah, akan tetapi mereka tetap mampu menguasai keadaan, Abu Bakar, Umar bin Al-Khattab, Ali bin Abu Thalib, Az Zubai bin Al Awwam, Mush’ab bin Umar, dan tokoh muslimin lainnya menjadi penggerak utama yang berhasil memojokkan kaum Quraisy. Singkat cerita akhirnya kaum Quraisy kehabisan tenaganya, dan terpukul mundur oleh desakan kaum muslimin, akan tetapi ditengah kemenangan kaum muslimin, ternyata terjadi kesalahan fatal yang dilakukan oleh tim pemanah, ketika mereka melihat pasukan muslimin mengambil ghanimah yang ada di medan pertempuran, tim pemanah pun ikut tergoda dan pergi dari pos yang sudah diperintahkan oleh Rasulullah, padahal perintahnya ialah untuk tetap berada di atas bukit baik dalam keadaan menang ataupun kalah, hanya tinggal Abdullah bin Ubair dan Sembilan rekannya yang ada di bukit Uhud. Melihat celah tersebut, kaum Quraisy dipimpin oleh Khalid bin Walid memanfaatkan peluang tersebut, dan kembali menyerang kaum muslimin melalui atas bukit Uhud, hingga akhirnya kaum muslimin terdesak. Kaum muslimin kemudian terporak porandakan barisannya, dan akhirnya banyak sahabat yang syahid akibat hal tersebut, bahkan Rasulullah pun mencapai saat yang paling kritis dalam kehidupannya, gigi seri dan gigi taring beliau pecah, kepala dan bahu beliau pun terluka.

Dengan kondisi demikian, para sahabat segera mendatangi Rasulullah dan melindungi beliau, kaum muslimin pun akhirnya mundur. Melihat kaum muslimin mundur, kaum Quraisy merasa sudah menang dan tidak mengejarnya lagi bahkan tersebar kabar bahwa Rasulullah telah mati, sehingga semakin meningkatkan kesenangan kaum Quraisy dan kehilangan semangat untuk bertempur lagi. Dalam beberapa riwayat dikatakan bahwa korban yang mati dikalangan kaum muslimin ialah 70 orang, sedangkan dikalangan kaum musyrik ialah 20 orang. Meskipun demikian perang Uhud ini masih belum selesai, ternyata kesalahan fatal yang dilakukan oleh kaum Quraisy ialah tidak segera menghabisi seluruh kaum muslimin yang tengah terpojokkan saat itu, sehingga Abu Sufyan pun bukannya mendapatkan pujian, tetapi hinaan karena tidak berhasil mengalahkan seluruh kaum muslimin ketika mereka sedang kalah, menyadari hal itu Abu Sufyan pun akhirnya mengajak seluruh pasukan Quraisy yang lain untuk kembali ke Madinah untuk mengalahkan kaum Muslimin. Disaat yang sama, Rasulullah menunjukkan kecerdikan perang yang luar biasa yaitu dengan mengirimkan utusan yang mengatakan bahwa Muhammad pergi bersama rekan-rekannya dengan jumlah yang tidak pernah sebanyak itu, mereka marah meradang kepada kalian. Diriwayat lain dikatakan, dalam kondisi yang penuh luka, Rasulullah meningkatkan semangat kaum muslimin dan mengajak untuk menyerang kaum Quraisy yang saat itu mau menyerang kembali. Melihat kepulan debu yang sangat besar, kaum Quraisy menjadi gemetar dan akhirnya mereka mundur dan kembali ke Mekkah.

Dengan demikian, Perang Uhud ini menjadi perang yang tidak tuntas, masing-masing pihak mendapatkan kemenangan dan kerugian masing-masing. Apalagi kedua belah pihak menahan diri untuk tidak saling menyerang. Masing-masing pihak merasa mendapatkan keuntungan dan juga dapat menimpakan kerugian kepada pihak yang lain, sehingga kedudukan menjadi imbang. Kemudian kedua belah pihak pulang dan masing-masing merasa menang.

Hikmah yang dapat diambil dari kisah Uhud ini ialah:

  1. Memperlihatkan kepada orang-orang Mukmin akibat yang tidak menguntungkan dari kedurhakaan dan melanggar larangan. Tepatnya ialah tindakan para pemanah yang meninggalkan posnya di atas bukit, padahal Rasulullah telah memerintahkan untuk tidak meninggalkan tempat itu bagaimanapun keadaannya
  2. Jika diberikan kemenangan terus menerus, maka akan sulit untuk menemukan orang-orang yang munafik, tetapi dengan kejadian ini maka terlihat dengan jelas siapa siapa saja yang munafik sehingga kaum muslimin bisa menjadi lebih waspada.
  3. Kemenangan yang tertunda seringkali meremukkan jiwa dan meluluhkan kehebatan yang dirasakan. Namun orang-orang mukmin tetap sabar saat mendapatkan cobaan, sedangkan orang-orang munafik menjadi risau.
  4. Allah telah menyediakan bagi hamba-hambaNya yang mukmin kedudukan yang mulia di sisi-Nya, yang tidak bisa dicapai begitu saja. Tetapi Dia perlu menguji dan mencoba mereka, sebagai jalan bagi mereka untuk mencapai kedudukan tersebut.
  5. Mati syahid merupakan kedudukan para penolong agama Allah yang paling tinggi. Inilah yang dikehendaki Allah bagi mereka
  6. Allah ingin menghancurkan musuh-musuh-Nya, dengan menampakkan sebab-sebab yang memang menguatkan kekufuran mereka, karena mereka menyiksa para penolong-Nya. Dengan begitu, dosa orang-orang Mukmin terhapus dan dosa orang-orang kafir semakin menumpuk.
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s