Kisah Perang Tabuk

images (1)

Referensi: Sirah Nabawiyah- Syaikh Shafiyyurrahman Al-Mubarakfuri

Pasca penaklukan Mekkah, tidak ada lagi tempat untuk meragukan dan menyangsikan risalah Rasulullah di seluruh jazirah Arab, bahkan berbondong-bondong masyarakat masuk kedalam agama Allah. Hanya saja masih ada satu kekuatan imperium besar yang masih menghadang perjalanan umat Muslim yaitu kekuatan Romawi, kekuatan militer terbesar di muka bumi pada zaman itu. Latar belakang penyebab perang Tabuk ialah dengan terbunuhnya duta Rasulullah Al Harits bin Umair ditangan Syurahbil bin Amr Al-Ghazanni, saat Al Harits membawa surat beliau yang ditujukan kepada pemimpin Bushra. Setelah itu beliau mengirimkan satuan pasukan yang dipimpin oleh Zaid bin Haritsah yang kemudian bertempur melawan Romawi di Mut’ah, dengan tanpa membawa hasil yang berarti. Romawi akhirnya membuat pilihan bahwa tidak ada alasan lagi melainkan untuk bertempur melawan orang-orang Muslim sebelum kekuatan mereka semakin berkembang dan mempengaruhi kekuasaan Romawi. Disisi lain di kalangan kaum muslimin tersebar informasi yang masih simpang siur mengenai persiapan pasukan Romawi untuk menyerang, sehingga muncul kekhawatiran dan kegundahan di hati kaum muslimin. Keadaan ini semakin diperparah dengan keberadaan orang-orang munafik yang seakan menggigit dari dalam, mereka telah melihat segala kekuatan yang dimiliki kaum muslimin, meskipun demikian mereka masih ingin mewujudkan kehancuran bagi Islam dan para pemeluknya, dan mereka melihat kekuatan Romawi ialah peluang yang sangat besar untuk menghancurkan Islam

Tersebar kabar Heraklius Raja Romawi telah menyiapkan 40.000 prajurit yang dipimpin oleh salah seorang pembesar Romawi, disamping ancaman diam diam dari orang munafik saat itu, keadaan semakin diperparah karena saat itu bertepatan dengan musim kemarau yang amat panas dan kering. Orang-orang menghadapi keadaan yang lebih sulit dan jarang menampakkan diri. Sementara buah-buah juga mulai masak, sehingga mereka lebih suka berada di kebun kebun buah dan keteduhan pepohonannya. Jarak yang amat jauh mereka harus tempuh jika harus berperang dengan pasukan Romawi. Rasulullah memandang bahwa keadaan dan perkembangan yang ada harus disikapi dengan bijaksana, apabila beliau bermalas-malasan dan menghindar dari Romawi maka Romawi akan dapat menjarah wilayah-wilayah yang telah tunduk kepada Islam, sehingga akhirnya Rasulullah pun mengambil sikap untuk bersiap berperang dan menyeru kepada seluruh kaum muslimin untuk siap berjihad dan mengeluarkan harta mereka. Setelah mendengar seruan Rasulullah kaum muslimin berlomba-lomba dalam melakukan persiapan perang, tak seorang pun orang muslim rela apabila dia sampai ketinggalan dalam peperangan kali ini, kecuali orang-orang yang dalam hatinya ada penyakit. Disamping berlomba-lomba dalam melakukan persiapan, mereka juga berlomba dalam menafkahkan harta dan mengeluarkan sedekah, Utsman dengan sekitar 900 onta dan 100 kuda, serta 1000 dinar, Abdurrahman bin Auf dengan 200 uqiyah perak, Abu Bakar dengan seluruh hartanya dan tidak menyisakan bagi keluarganya melainkan Allah dan Rasulnya, yang senilai 4000 dirham, Umar dengan separuh hartanya, dan masih banyak sahabat yang lain yang juga memberikan sedekah terbaiknya.

Pada hari Kamis, Rasulullah mulai bergerak ke Tabuk dengan membawa sebanyak 30.000 pasukan, 100 kali lipat dari jumlah pasukan ketika di Perang Badr. Mengingat jumlah pasukan yang sangat besar, maka persiapan dianggap masih kurang sempurna, sekalipun cukup bnyak sedekah yang sudah dikeluarkan. Pasukan Islam akhirnya tiba di Tabuk, dan siap untuk bertempur, Rasulullah berdiri dihadapan pasukan dan menyampaikan pidato penuh semangat dengan kata-kata yang memiliki kandungan makna yang sangat luas, menganjurkan kepada kebaikan dunia dan akhirat, memberi peringatan dan ancaman, serta memberikan kabar gembira dan kabar yang menyenangkan. Sebaliknya ketika pasukan Romawi mendengar bahwa Rasulullah telah menggalang pasukan, muncul ketakutan dan kekhawatiran yang merambat hati mereka, sehingga mereka tidak berani maju atau langsung merencanakan serangan. Mereka berpencar-pencar dibatas wilayah mereka sendiri. Karena itu Rasulullah didatangi Yuhannah bin Ru’bah, pemimpin Ailah yang menawarkan perjanjian perdamaian dengan beliau dan siap menyerahkan jizyah kepada beliau. Begitu pula yang dilakukan penduduk Jarba’ dan Adruj. Satu persatu berbagai kabilah yang tunduk kepada Romawi akhirnya mengambil keputusan untuk berbalik mendukung kaum muslimin, mereka meyakini bahwa para pemimpin sebelumnya yang tunduk kepada Romawi telah membuat langkah yang salah dan kini sudah habis masanya. Sehingga peperangan pun dimenangkan kaum muslimin tanpa secara harfiah melakukan adu pedang atau saling bunuh, kabilah-kabilah Romawi satu per satu tunduk melihat kekuatan kaum Muslimin yang begitu besar, dengan demikian wilayah kekuasaan pemerintahan Islam semakin bertambah luas, hingga langsung berbatasan dengan wilayah kekuasaan bangsa Romawi.

Pasukan Islam meninggalkan Tabuk dengan membawa kemenangan tanpa mengalami tekanan sedikitpun, dalam perjalanan ini Allah telah mencukupkan peperangan bagi orang-orang mukmin. Keberangkatan beliau ke Tabuk pada bulan Rajab dan pulang dari sana pada bulan Ramadhan. Peperangan ini memakan waktu selama 50 hari, di Tabuk 20 hari sedangkan sisanya dihabiskan di perjalanan pulang pergi, dan ini ialah peperangan Beliau yang terakhir kali. Orang-orang yang tidak ikut serta tetapi didalam hatinya masih terdapat keimanan seperti Ka’b bin Malik, Murarah bin Rabi’, dan Hilal bin Umayyah mendapatkan hukuman dengan melarang sahabat untuk berbicara kepada mereka bertiga, dan mereka mendapatkan hukuman pengucilan. Namun setelah beberapa hari lamanya, seiring dengan turunnya Surat At Taubah: 18, Allah menerima taubat mereka. Peperangan ini mempunyai pengaruh yang sangat besar bagi pamor orang-orang mukmin dan menguatkan mereka di jazirah Arab. Kini orang-orang mulai menyadari bahwa tidak ada satu kekuatan kecuali kekuatan Islam. Sisa harapan dan angan-angan yang masih bersemayam di hati orang-orang munafik dan jahiliyah mulai sirna. Sebelumnya mereka masih berharap banyak terhadap pasukan Romawi untuk melumat pasukan Muslimin, namun setelah peperangan ini, membuat mereka sudah kehilangan nyali dan pasrah terhadap kekuatan yang ada, karena mereka sudah tidak mempunyai celah dan peluang untuk melakukan konspirasi.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s