Sepucuk Surat Untuk Saudaraku

IMG_4610 IMG_4248

Rasa syukur yang teramat dalam tercurahkan kepada Allah Swt atas segala limpahan nikmat serta karunia-Nya kepada kita semua, utamanya nikmat iman, islam, ihsan, serta karunia sehat wal’afiat yang diberikan kepada kita semua. Shalawat serta salam pun tak lupa kita haturkan kepada pemimpin paling mulia yang telah membimbing kita dari masa-masa jahiliyah kedalam masa yang penuh dengan cahaya keislaman yakni Rasulullah Muhammad shollallahu alahi wa sallam, beserta keluarga, para sahabat dan pengikutnya hingga hari kiamat kelak.

Sesungguhnya untaian surat ini tak dapat menggambarkan betapa besar kebahagiaan yang aku rasakan ketika dapat bersama teman-teman semua setelah melalui proses yang cukup panjang, dan akhirnya terbentuklah sebuah keluarga baru FSI 25, dimana aku yakin kita adalah orang-orang terbaik yang Allah berikan untuk mengemban amanah dakwah di FISIP tahun ini.

Tentu tak pernah terbayangkan dahulu bahwa kita akan berada dalam keluarga besar Forum Studi Islam FISIP UI, hingga akhirnya sekarang kita berada bersama dalam perjuangan dakwah di FSI yang akan menginjak umurnya yang ke-25. Tetapi yakinlah saudaraku bahwa sesungguhnya Allah Maha Berencana dalam perjalanan kehidupan kita, maka tentunya teman-teman semua adalah salah satu nikmat terindah yang Allah berikan dalam skenario perjalanan hidup aku. Betapa tidak, rasa kagum dan bangga ini terus mengalir melihat senyum semangat wajah teman-teman semua dan antusiasme yang luar biasa untuk memberikan waktu, tenaga, dan pikirannya hanya semata-mata untuk berjuang menegakkan dakwah Islam. Dakwah yang mulia yang hanya diemban oleh orang-orang pilihan, jalan yang tidak ditaburi bunga-bunga harum dan sorak sorai pujian, melainkan jalan yang sukar dan panjang. Ia memerlukan kesabaran dan keikhlasan yang kuat untuk memikul beban. Ia memerlukan kerendahan hati, pemberian dan pengorbanan yang besar. Ia memerlukan totalitas dari pemikulnya tanpa mengharapkan hasil yang segera, komitmen yang tinggi untuk terus bergerak dan mengikhlaskan hasilnya hanya kepada Allah, bahkan mungkin saja kita tidak akan melihat hasil dari perjuangan yang telah kita lakukan.

Saudaraku yang kucintai karena Allah, aku telah diberikan amanah sebagai pemimpin bagi teman-teman semua dalam setahun kepengurusan ini, akan tetapi ingatlah bahwa aku bukanlah yang terbaik diantara kalian, jika aku melakukan perbuatan yang baik maka bantulah aku untuk terus menjaga dan meningkatkannya, tetapi jika aku berbuat kesalahan maka ingatkanlah aku. Teringat akan sosok Presiden Morsi pada saat kepemimpinannya ketika beliau mengatakan,“Taatlah anda semua kepada aku selagi aku taat kepada Allah dan Rasul-Nya, tetapi jika aku menderhaka kepada Allah atau Rasul-Nya, anda semua berhutang karena aku tidak taat” Oleh karena itu peranan saling mengingatkan dalam kebaikan sangatlah penting dalam perjuangan kita kedepannya.

Saudaraku, dahulu kita hanya disibukkan dengan hal-hal pribadi saja, namun saat ini kita telah beranjak dewasa dan bersiap untuk memikul amanah yang lebih berat, maka sekarang bukan saatnya bagi kita untuk memikirkan diri sendiri akan tetapi kita juga akan memikirkan kondisi umat Islam khususnya di tataran FISIP. Maka biarkanlah orang-orang diluar sana merasakan kehadiran kita, merasakan kebermanfaatan, kepedulian, dan rasa akung kita. Betapa indah kata-kata Imam Hasan Al Bana dalam mengungkapkan cintanya kepada umat,

“Betapa inginnya kami agar umat ini mengetahui bahwa mereka lebih kami cintai dari pada diri kami sendiri. Kami berbangga ketika jiwa-jiwa kami gugur sebagai penebus bagi kehormatan mereka, jika memang tebusan itu yang diperlukan. Atau menjadi cita mereka, jika memang itu harga yang harus dibayar. Tiada sesuatu yang membuat kami bersikap seperti ini selain rasa cinta yang telah mengharu-biru hati kami, mengusai perasaan kami, memeras habis air mata kami, dan mencabut rasa ingin tidur dari pelupuk mata kami. Betapa berat rasa di hati ketika kami menyaksikan bencana yang mencabik-cabik umat ini, sementara kita hanya sanggup menyerah pada kehinaan dan pasrah oleh keputusasaan.”

Saudaraku, Dakwah itu bagaikan cinta, ia akan meminta segalanya. Ketika teman-teman sudah cinta dengan dakwah, maka berikanlah hal yang terbaik untuk dakwah Islam. Ia akan menyelami pikiran dan hati teman-teman, meminta sesuatu yang harus kita lakukan segera demi masyarakat FISIP yang madani. Padukan potensi satukan visi, tebar cahaya Islam di muka bumi, sebait lirik dalam Mars FSI sebagai pengingat bagi kita untuk selalu bersemangat dalam berjuang dijalan ini, aku berharap kedepannya kita dapat memperkokoh barisan dan berjuang bersama dengan semangat dan kontribusi terbaik kita, karena sejatinya dakwah ini membutuhkan totalitas dalam perjuangannya.

Ini adalah langkah awal perjuangan kita, langkah awal dimana segala hal akan dimulai, perjalanan baru dengan semangat yang baru, perjalanan dimana pengorbanan akan dikeluarkan lebih, waktu yang akan dicurahkan lebih besar, dan perhatian yang akan terus terkuras untuk keberhasilan dakwah ini,  bahkan suatu saat nanti, mungkin dakwah ini akan memanggil kita untuk berjihad yang sebenarnya, yaitu jihad berperang di jalan Allah (fi sabilillah).

Perjalanan ini tidak dapat dilalui seorang diri, akan tetapi bersama kalian, Super Team FSI 25, tim terbaik yang pernah ada yang akan terus berjuang menegakkan Islam, aku yakin kita akan memberikan warna yang indah dalam goresan tinta perjalanan dakwah kita selama setahun kedepan.

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar

Abdul Jabbar

Ketua Umum FSI FISIP UI 25

Sesungguhnya kita semua adalah istimewa, tidak ada kata biasa bagi jiwa yang anggun yang senantiasa memperbaiki dirinya.”