Belajar dari Kisah Nabi Yusuf

Sesungguhnya Allah menjadikan kisah Para Nabi terdahulu dan mengabadikannya dalam Quran agar dapat dijadikan pelajaran dan hikmah bagi manusia dalam menjalani kehidupan di dunia. Pada kesempatan kali ini akan dibahas mengenai kisah Nabi Yusuf AS. Nabi Yusuf merupakan anak ke tujuh dari dua belas putera-puteri Nabi Ya’qub, ia dikaruniakan Allah rupa yang baik, paras tampan dan tubuh yang tegap yang menjadikan beliau sebagai idaman setiap wanita.

Diceritakan bahwa rasa sayang yang diberikan sang ayah kepada Nabi Yusuf AS membuat rasa iri hati dan dengki dari saudara-saudara Nabi Yusuf yang lain sehingga terbersitlah niat untuk mengasingkan Nabi Yusuf, dan membuangnya ke sumur hingga ia dijadikan budak oleh musafir yang lewat dan akhirnya bisa menjauh dari sang ayah. Mereka berpikir bahwa ketika Yusuf berpisah dengan sang ayah, maka ayah mereka akan memiliki perhatian yang lebih kepada saudara-saudara Yusuf. Niat tersebut akhirnya dilaksanakan oleh para saudara nabi yusuf, dengan berdalih mengajak yusuf untuk bermain mereka akhirnya mampu mengelabui Yusuf dan membuangnya ke sumur, meninggalkannya tanpa pakaian dan kembali kepada Nabi Ya’kub dengan penjelasan bahwa Yusuf telah mati dimakan srigala.

Nabi Ya’kub sebenarnya telah mengetahui bahwasanya Yusuf merupakan Nabi Allah atas mimpi yang telah diceritakan Yusuf kepada Nabi Ya’kub, sehingga hal tersebut membuat beliau memiliki rasa sayang yang lebih kepada Yusuf. Ketika mengetahui bahwa Yusuf telah mati dimakan serigala sebagaimana dikatakan oleh saudara-saudara Yusuf yang lain, Nabi Ya’kub menjadi sangat sedih. Disisi lain pada saat di sumur, Nabi Yusuf merasakan derita yang luar biasa, selain ia harus menerima kenyataan bahwa para saudaranya tega melakukan hal tersebut pada dirinya, ia juga harus menahan rasa lapar, sakit, dan dingin ketika berada didalam sumur hingga beberapa hari. Hingga akhirnya datanglah suatu kafilah yang mengambil air dari sumur dimana Nabi Yusuf dibuang, pada saat itu juga Nabi Yusuf bisa naik ke permukaan, dan ketika melihat paras wajah, dan kulit putih serta tubuh yang tegak, maka kafilah tersebut membawa Yusuf untuk dijual dalam pasar budak dengan berasumsi bahwa Yusuf memiliki harga yang mahal ketika dijual.

Singkat cerita akhirnya Yusuf dibeli oleh seorang ketua Polisi Mesir bernama Fathifar dan dijadikan budak. Yusuf terkenal dengan sifatnya yang santun, ramah, baik, jujur, dan memiliki keunggulan fisik dibandingkan pria lainnya. Hal tersebut membuat Istri Fathifar, Zulaekha terpicu nafsunya untuk dapat memiliki Yusuf hingga akhirnya ia memasang tipu muslihat dan menjebak Yusuf untuk masuk ke kamarnya dan mengajaknya untuk melakukan perbuatan zina. Namun tentu saja dengan kemantapan iman dan keluhuran akhlak Yusuf menolak ajakan tersebut dan berusaha untuk keluar dari kamar, Zulaikha menarik baju Yusuf sampai robek agar tidak pergi keluar kamar. Pada saat itu juga datanglah Fathifar dan terkejut melihat pemandangan yang ia lihat. Fathifar kemudian meminta petunjuk saudari zulaeikha yang terkenal bijaksana untuk mengambil keputusan dalam situasi ini demi mengetahui siapa yang berdusta dan siapa yang jujur. Dikatakan bahwa jika baju depan yang robek maka yusuf lah yang berdusta, tetapi jika baju belakang yang robek maka zulaikha lah yang berdusta, dengan demikian maka terungkaplah bahwa zulaikha yang mencoba merayu dan menggoda yusuf.

Hal tersebut menjadi desas desus masyarakat bahwa Zulaikha mencoba menggoda Yusuf, budaknya sendiri. Hingga akhirnya Zulaikha mengundang seluruh wanita yang membicarakannya kedalam suatu jamuan pertemuan, dan pada saat Yusuf dipanggil keluar, maka terpana lah para wanita tersebut hingga mereka yang tadinya sedang mengiris kulit buah secara tidak sadar mengiris-iris tangannya sendiri karena melihat ketampanan rupa dari Yusuf. Karena merasa direndahkan oleh Yusuf, maka Zulaikha meminta suaminya untuk memenjarakan Yusuf dengan tuduhan menggoda Zulaikha, meskipun Fathihar mengetahui kebenaran sebenarnya, ia tidak dapat berbuat apa-apa, demi menjaga nama baik keluarganya ia terpaksa memenuhi permintaan istrinya, sehingga dipenjara lah Yusuf.

Menghadapi situasi tersebut, Yusuf tidak mengeluh bahkan bersyukur, karena ketika ia dipenjara maka ia akan dijauhkan dari godaan para wanita yang mencoba merayunya, disisi lain ia merasa lebih nyaman karena disana ia mendapatkan waktu lebih untuk dapat bermunajat kepada Allah. Aktifitas yang dilakukan Yusuf didalam penjara ialah memberi bimbingan dan nasihat kepada mereka yang dipenjara, agar bertobat atas kesalahan yang dilakukan, serta bersabar dan bertakwa kepada Allah dan memohon agar segala penderitaan dan kesilitan yang mereka alami dapat segera berakhir. Pada suatu hari datanglah dua orang pemuda tahanan yang bermimpi dan ingin agar Yusuf menjelaskan apa maksud dari mimpi tersebut. Pemuda pertama ia mengatakan bahwa ia berada dalam sebuah kebun anggur sembari memegang gelas, lalu diisinya gelas tersebut dengan perasan buah anggur,sedangkan pemuda yang lain melihat bahwa dirinya berada dalam sebuah keranjang berisi roti, roti tersebut kemudian dimakan oleh sekelompok burung. Kemudian Yusuf menjelaskan mimpi tersebut, bahwasanya pemuda pertama akan segera dikeluarkan dari penjara dan akan dipekerjakan kembali seperti sedia kala di kerajaan, sedangkan pemuda kedua akan dihukum mati dengan disalib dan kepalanya akan menjadi makanan burung. Demikian lah tabir mimpi kedua pemuda tersebut yang dijelaskan oleh Nabi Yusuf. Selang tidak lama kemudian, ternyata apa yang dijelaskan Nabi Yusuf menjadi kenyataan, keluar lah surat pengampunan Raja bagi pemuda pertama dan hukuman salib bagi pemuda kedua.

Pada suatu hari berkumpullah Raja Mesir di istana, para pembesar, penasihat dan tokoh masyarakat diundang dalam pertemuan tersebut dalam rangka untuk memberikan penjelasan atas mimpi yang dialami sang Raja. Ia bermimpi melihat tujuh ekor sapi betina yang kurus-kurus, disamping itu ia juga melihat tujuh butir gandum hijau dan tujuh butir gandum yang kering. Ia menjelaskan mimpi tersebut kepada seluruh peserta yang hadir, akan tetapi tidak ada seorang pun yang mampu menjelaskan mimpi tersebut, hingga akhirnya sang pemuda yang dibebaskan dari penjara teringat akan kemampuan Nabi Yusuf dalam membaca tabir mimpi, hingga ia memohon kepada Raja untuk memanggil Nabi Yusuf dari penjara guna menjelaskan mimpi sang Raja. Kemudian dipanggilah Yusuf, dan dijelaskan makna dari mimpi sang Raja. Dijelaskan oleh Nabi Yusuf, bahwasanya Negara ini akan menghadapi masa makmur dan subur selama tujuh tahun, dimana tumbuh-tumbuhan dan semua tanaman gandum, padi, sayur mayor, dan segala hasil pertanian akan mengalami masa menuai yang baik dan membawa hasil bahan makanan yang berlimpah ruah, kemudian disusul oleh musim kemarau selama tujuh tahun berikutnya dimana sungai nil pun tidak memberi air yang cukup bagi ldang-ladang yang kering, tumbuh-tumbuhan dan tanaman rusak dimakan hama sedangkan persediaan bahan makanan hasil dari tahun sebelumnya dimasa subur itu sudah habis dimakan. Akan tetapi, lanjut Nabi Yusuf, setelah mengalami kedua musim tujuh tahun itu, akan tibalah tahun basah dimana hujan akan turun dengan lebatnya menyirami tanah-tanah yang kering dan kembali menghijau menghasilkan bahan makanan dan buah-buahan yang lezat untuk dimakan.

Maka Nabi Yusuf memberikan saran kepada Raja Mesir untuk menyimpan sebanyak mungkin persediaan bahan makanan selama masa subur untuk persiapan di masa kering. Menanggapi penafsiran tersebut Raja Mesir merasa puas, ia melihat kejujuran, kesucian hati dan kebesaran jiwa dari dalam diri Nabi Yusuf, sehingga ia menawarkan untuk membebaskan Nabi Yusuf dari penjara. Akan tetapi Nabi Yusuf tidak ingin keluar dari penjara atas belas kasihan sang Raja, dan ingin keluar atas dasar kebenaran sehingga meminta kepada Raja untuk memanggil seluruh wanita yang hadir dalam jamuan termasuk zulaikha untuk menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi. Hingga akhirnya dijelaskanlah kejadian sebenarnya, dan Yusuf dapat bebas dari penjara dengan bersih dan terbukti tidak bersalah. Sebagaimana diceritakan sebelumnya sudah muncul rasa kagum Raja Mesir terhadap Nabi Yusuf, ia telah mendengar banyak cerita tentang Nabi Yusuf, kecerdasannya, keramah tamahan, serta akhlak dan budi pekerti luhurnya, menurut Raja akan sangat bermanfaat bagi kerjaan jika Nabi Yusuf diberikan amanah untuk memimpin rakyat dan Negara. Nabi Yusuf menolak tawaran tersebut, tetapi ia menerima jika diberikan kekuasaan penuh dalam bidang keuangan dan disteribusi bahan makanan, karena menurut pertimbangan Nabi Yusuf, kedua bidang tersebut merupakan kunci dari kesejahteraan rakyat dan kestabilan Negara. Raja yang sudah percaya dengan Nabi Yusuf segera memenuhi keinginan Nabi Yusuf dan memutuskan memberikan kekuasaannya kepada Nabi Yusuf.

Sebagai penguasa yang bijaksana Nabi Yusuf mampu memimpin Mesir dengan baik, sehingga rakyat dapat hidup aman, tentram dan sejahtera, pun dalam masa kemarau sebagaimana telah diprediksikan sebelumnya, Negara sudah memiliki persediaan makanan yang lebih dari cukup, sehingga tidak mengalami kesulitan. Berita kemakmuran Negeri Mesir tersebar hingga kepelosok negeri, sehingga daerah-daerah pinggiran segera datang ke pusat kota untuk meminta bahan makanan, termasuk rombongan orang-orang Palestina yang pada saat itu juga sedang kekurangan bahan makanan. Didalam rombongan orang palestina tersebut terdapat saudara Nabi Yusuf yang dulu mencelakakan Nabi Yusuf dan membuat hidupnya menderita, hingga bertemulah Nabi Yusuf dengan saudaranya. Pada saat itu hanya Nabi Yusuf yang ingat wajah saudaranya sedangkan para saudaranya tidak sadar bahwa orang yang berbicara didepannya ialah Nabi Yusuf. Singkat cerita saudara Nabi Yusuf menyesal atas perbuatan yang dilakukannya karena telah membuat sang ayah menjadi sedih hati hingga Ya’kub mengalami penurunan kondisi secara fisik, diceritakan bahwa Ya’kub telah berusia lebih dari seabad, dan buta. Mendapati kondisi tersebut, Yusuf meminta para saudaranya untuk membawa sang ayah ke istana, dan pada akhirnya Nabi Yusuf dan Nabi Ya’kub beserta seluruh keluarganya dapat bertemu kembali dengan suasana yang haru biru dan penuh atas rasa syukur nikmat Allah SWT.

Hikmah atas kisah Nabi Yusuf tersebut ialah bahwasanya penderitaan yang mungkin suatu saat kita alami sejatinya memiliki rahmat dan berkah ketika kita menghadapi hal tersebut dengan rasa kesabaran dan keteguhan hati atas pertolongan Allah sebagaimana Nabi Yusuf contohkan ketika beliau dibuang kedalam sumur, jauh dari ayah yang sangat disayanginya, sendirian dengan rasa lapar, dijual dalam pasar budak, hingga dipenjara atas kesalahan yang tidak beliau lakukan. Semua hal tersebut dihadapi dengan penuh kesabaran, bahkan tanpa ada keluhan sedikit pun. Disisi lain kisah ini juga menceritakan bahwa segala nikmat dan karunia rezeki ialah milik Allah SWT, maka ketika kita diberikan rezeki kita harus bersyukur dan melipat gandakan amal kebaikan kita, serta tidak tersilaukan oleh kenikmatan dunia. Hal ini juga dicontohkan Nabi Yusuf ketika beliau akhirnya dipercaya sebagai pemimpin dan memangku kekuasaan dunia, tetapi beliau tetap seperti sedia kala, tidak merasa sombong dan bijaksana menyikapi kenikmatan yang beliau dapatkan. Nabi Yusuf tidak menaruh rasa dendam berkelanjutan kepada saudaranya yang membuangnya dulu, meskipun ada rasa sedih dan kecewa, tetapi beliau mampu memaafkan sikap saudaranya, hal ini mengajarkan kita akan arti dari kesabaran dan jiwa pemaaf. Hingga akhirnya kebahagiaan pun datang ketika Nabi Yusuf dapat bertemu kembali dengan ayah yang sangat dirindukannya. Bahwasanya selalu ada kemudahan setelah kesulitan, dan selalu ada kebahagiaan setelah kesedihan, itulah pelajaran terakhir yang dapat dipetik dalam kisah ini. Wallahualam bisshowab.

Sepucuk Surat Untuk Saudaraku

IMG_4610 IMG_4248

Rasa syukur yang teramat dalam tercurahkan kepada Allah Swt atas segala limpahan nikmat serta karunia-Nya kepada kita semua, utamanya nikmat iman, islam, ihsan, serta karunia sehat wal’afiat yang diberikan kepada kita semua. Shalawat serta salam pun tak lupa kita haturkan kepada pemimpin paling mulia yang telah membimbing kita dari masa-masa jahiliyah kedalam masa yang penuh dengan cahaya keislaman yakni Rasulullah Muhammad shollallahu alahi wa sallam, beserta keluarga, para sahabat dan pengikutnya hingga hari kiamat kelak.

Sesungguhnya untaian surat ini tak dapat menggambarkan betapa besar kebahagiaan yang aku rasakan ketika dapat bersama teman-teman semua setelah melalui proses yang cukup panjang, dan akhirnya terbentuklah sebuah keluarga baru FSI 25, dimana aku yakin kita adalah orang-orang terbaik yang Allah berikan untuk mengemban amanah dakwah di FISIP tahun ini.

Tentu tak pernah terbayangkan dahulu bahwa kita akan berada dalam keluarga besar Forum Studi Islam FISIP UI, hingga akhirnya sekarang kita berada bersama dalam perjuangan dakwah di FSI yang akan menginjak umurnya yang ke-25. Tetapi yakinlah saudaraku bahwa sesungguhnya Allah Maha Berencana dalam perjalanan kehidupan kita, maka tentunya teman-teman semua adalah salah satu nikmat terindah yang Allah berikan dalam skenario perjalanan hidup aku. Betapa tidak, rasa kagum dan bangga ini terus mengalir melihat senyum semangat wajah teman-teman semua dan antusiasme yang luar biasa untuk memberikan waktu, tenaga, dan pikirannya hanya semata-mata untuk berjuang menegakkan dakwah Islam. Dakwah yang mulia yang hanya diemban oleh orang-orang pilihan, jalan yang tidak ditaburi bunga-bunga harum dan sorak sorai pujian, melainkan jalan yang sukar dan panjang. Ia memerlukan kesabaran dan keikhlasan yang kuat untuk memikul beban. Ia memerlukan kerendahan hati, pemberian dan pengorbanan yang besar. Ia memerlukan totalitas dari pemikulnya tanpa mengharapkan hasil yang segera, komitmen yang tinggi untuk terus bergerak dan mengikhlaskan hasilnya hanya kepada Allah, bahkan mungkin saja kita tidak akan melihat hasil dari perjuangan yang telah kita lakukan.

Saudaraku yang kucintai karena Allah, aku telah diberikan amanah sebagai pemimpin bagi teman-teman semua dalam setahun kepengurusan ini, akan tetapi ingatlah bahwa aku bukanlah yang terbaik diantara kalian, jika aku melakukan perbuatan yang baik maka bantulah aku untuk terus menjaga dan meningkatkannya, tetapi jika aku berbuat kesalahan maka ingatkanlah aku. Teringat akan sosok Presiden Morsi pada saat kepemimpinannya ketika beliau mengatakan,“Taatlah anda semua kepada aku selagi aku taat kepada Allah dan Rasul-Nya, tetapi jika aku menderhaka kepada Allah atau Rasul-Nya, anda semua berhutang karena aku tidak taat” Oleh karena itu peranan saling mengingatkan dalam kebaikan sangatlah penting dalam perjuangan kita kedepannya.

Saudaraku, dahulu kita hanya disibukkan dengan hal-hal pribadi saja, namun saat ini kita telah beranjak dewasa dan bersiap untuk memikul amanah yang lebih berat, maka sekarang bukan saatnya bagi kita untuk memikirkan diri sendiri akan tetapi kita juga akan memikirkan kondisi umat Islam khususnya di tataran FISIP. Maka biarkanlah orang-orang diluar sana merasakan kehadiran kita, merasakan kebermanfaatan, kepedulian, dan rasa akung kita. Betapa indah kata-kata Imam Hasan Al Bana dalam mengungkapkan cintanya kepada umat,

“Betapa inginnya kami agar umat ini mengetahui bahwa mereka lebih kami cintai dari pada diri kami sendiri. Kami berbangga ketika jiwa-jiwa kami gugur sebagai penebus bagi kehormatan mereka, jika memang tebusan itu yang diperlukan. Atau menjadi cita mereka, jika memang itu harga yang harus dibayar. Tiada sesuatu yang membuat kami bersikap seperti ini selain rasa cinta yang telah mengharu-biru hati kami, mengusai perasaan kami, memeras habis air mata kami, dan mencabut rasa ingin tidur dari pelupuk mata kami. Betapa berat rasa di hati ketika kami menyaksikan bencana yang mencabik-cabik umat ini, sementara kita hanya sanggup menyerah pada kehinaan dan pasrah oleh keputusasaan.”

Saudaraku, Dakwah itu bagaikan cinta, ia akan meminta segalanya. Ketika teman-teman sudah cinta dengan dakwah, maka berikanlah hal yang terbaik untuk dakwah Islam. Ia akan menyelami pikiran dan hati teman-teman, meminta sesuatu yang harus kita lakukan segera demi masyarakat FISIP yang madani. Padukan potensi satukan visi, tebar cahaya Islam di muka bumi, sebait lirik dalam Mars FSI sebagai pengingat bagi kita untuk selalu bersemangat dalam berjuang dijalan ini, aku berharap kedepannya kita dapat memperkokoh barisan dan berjuang bersama dengan semangat dan kontribusi terbaik kita, karena sejatinya dakwah ini membutuhkan totalitas dalam perjuangannya.

Ini adalah langkah awal perjuangan kita, langkah awal dimana segala hal akan dimulai, perjalanan baru dengan semangat yang baru, perjalanan dimana pengorbanan akan dikeluarkan lebih, waktu yang akan dicurahkan lebih besar, dan perhatian yang akan terus terkuras untuk keberhasilan dakwah ini,  bahkan suatu saat nanti, mungkin dakwah ini akan memanggil kita untuk berjihad yang sebenarnya, yaitu jihad berperang di jalan Allah (fi sabilillah).

Perjalanan ini tidak dapat dilalui seorang diri, akan tetapi bersama kalian, Super Team FSI 25, tim terbaik yang pernah ada yang akan terus berjuang menegakkan Islam, aku yakin kita akan memberikan warna yang indah dalam goresan tinta perjalanan dakwah kita selama setahun kedepan.

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar

Abdul Jabbar

Ketua Umum FSI FISIP UI 25

Sesungguhnya kita semua adalah istimewa, tidak ada kata biasa bagi jiwa yang anggun yang senantiasa memperbaiki dirinya.”

 

Memaknai Semangat Idul Qurban

kartun-potong-qurban

Gugus bintang berganti dengan sinar hangat sang mentari, derik jangkrik yang menemani malam pun akhirnya berganti dengan melodi nada kicau burung yang merdu, membuka mata dan menyadarkan raga bahwa hari telah membuka lembaran barunya. Embun air di dedaunan lantas menyegarkan pandanganku dan desir angin yang mengalir sejuk ketika kubuka jendela rumah seakan mengajakku untuk segera keluar dan menikmati kesegaran pagi yang telah diberikan-Nya secara cuma-cuma. Begitulah nikmat yang Allah berikan mengawali rutinitas keseharianku.

Hari ini berbeda dengan hari-hari sebelumnya, nampak nuansa yang berbeda ketika aku menjalankan aktivitas keseharianku. Mengiringi perjalananku menuju kampus untuk menimba ilmu, sentak mulai tercium bau khas hewan ternak, tepi jalan yang biasanya sepi dan menjadi tempat kendaraan bermotor mencuri lahan untuk menghindari kemacetan, bertransformasi dengan berdirinya bambu-bambu yang tersusun rapi dan tumpukan jerami yang diatur sedemikian rupa, sehingga terciptalah rumah tinggal sementara untuk hewan ternak. Pemandangan itu kemudian menyadarkanku bahwa tidak lama lagi akan tiba suatu hari yang istimewa, hari yang setiap tahun bertamu, berkunjung ke pelataran kehidupan umat muslim, hari di mana di dalamnya terkandung makna pengorbanan yang luar biasa, hari di mana mereka yang tidak mampu pun bisa menikmati makanan yang jarang mereka rasakan, ya itulah Idul Adha/Idul Qurban.

Aku sedikit bersedih karena untuk saat ini aku belum bisa melakukan Qurban atas kemampuanku sendiri, karena itulah amalan yang paling dicintai Allah pada saat hari raya Qurban, sebagaimana tertuang dalam hadist At-Tirmidzi yang meriwayatkan dari ‘Aisyah r.a. bahwa Nabi saw. bersabda:

“Tidak ada suatu amalan pun yang dilakukan oleh manusia pada hari Raya Qurban, lebih dicintai Allah selain dari menyembelih hewan Qurban. Sesungguhnya hewan qurban itu kelak di hari Kiamat akan datang beserta tanduk-tanduknya, bulu-bulunya dan kuku-kukunya, dan sesungguhnya sebelum darah qurban itu menyentuh tanah, ia (pahalanya) telah diterima di sisi Allah, maka beruntunglah kalian semua dengan (pahala) qurban itu.” (HR Tirmidzi)

Meskipun demikian, setidaknya kita harus memahami semangat dari Idul Qurban ini sendiri:

Pertama ialah mengenai semangat pengorbanan dan kesabaran yang dengan sangat indah telah tertuang dalam kisah Nabi Ibrahim AS dan anaknya Nabi Ismail AS (QS Ash-Shaffat: 102–107). Peristiwa tersebut menjadi kesan yang sangat mendalam bagiku, Nabi Ismail ialah buah hati yang telah ditunggu bertahun-tahun oleh Nabi Ibrahim AS, tentunya rasa cinta yang sangat mendalam kemudian tertuangkan kepada Nabi Ismail ketika ia lahir. Singkat cerita Nabi Ibrahim diwahyukan untuk menyembelih anak yang sangat disayangi itu, dan Nabi Ismail pun menerima dengan penuh kesabaran, kemudian ketika hendak disembelih akhirnya Nabi Ismail digantikan dengan seekor domba. Dengan demikian Nabi Ibrahim telah lolos dalam ujian yang Allah berikan. Dari kisah tersebut kita dapat mengambil hikmah bahwa kasih sayang kepada Allah ialah hal yang paling utama, dan kita harus sabar atas segala cobaan yang kita hadapi.

Kedua ialah semangat solidaritas dan menggembirakan kaum muslimin. Idul Qurban memberikan pemaknaan bagi kita mengenai konsep berbagi dan solidaritas. Pada hari yang mulia itu seluruh masyarakat baik yang mampu maupun tidak mampu memiliki kesempatan yang sama untuk menikmati daging qurban, bersama-sama berbagi kebahagiaan dengan menikmati daging qurban yang dibagikan. Bentuk solidaritas kemanusiaan ini pun terefleksikan ketika jamaah haji sedang wuquf di Arafah, umat muslim yang lain melaksanakan puasa Arafah. Perintah berkurban bagi yang mampu menunjukkan bahwa sejatinya Islam ialah agama yang sangat memperhatikan kesejahteraan fakir miskin dan kaum dhuafa lainnya. Hal ini akan mempertebal rasa kemanusiaan, mengasah kepekaan sosial dan saling menyayangi antar sesama.

Ketiga ialah semangat untuk menegakkan syiar-syiar Allah. Hal yang mendasarinya ialah firman Allah dalam surat Al Hajj: 36,

“Dan telah Kami jadikan untuk kamu unta-unta itu sebahagian dari syiar Allah, kamu memperoleh kebaikan yang banyak padanya, maka sebutlah olehmu nama Allah ketika kamu menyembelihnya”.(Q.S. Al-Hajj: 36).

Idul qurban sebagai sarana yang Allah berikan kepada umat Islam untuk mensyiarkan keindahan dan kebaikan Islam kepada seluruh umat di dunia. Lantas kemudian bagaimana kita nantinya dapat memanfaatkan momen tersebut untuk menyentuh seluruh kalangan dengan kasih sayang dan kecintaan kita terhadap umat.

Matahari senja sudah semakin menguning, burung-burung di langit mulai berterbangan seakan mengucap salam perpisahan, bayang-bayang rembulan pun mengintip dengan tersipu malu, sungguh rasanya tak sabar untuk bertemu dengan hari yang mulia itu, bayang-bayang lantunan takbir diiringi dengan tabuhan bedug yang menggema menambah semaraknya hari raya, suara takbir yang bersahut sahutan menemani malam, dan nuansa berbagi daging hewan qurban kepada seluruh masyarakat, kemudian terlintas dipikiranku seakan mengajak diri ini untuk sejenak merefleksikan bahwa tidak ada yang agung, dan layak untuk disembah kecuali Allah, Tuhan semesta alam.

Kisah Perang Tabuk

images (1)

Referensi: Sirah Nabawiyah- Syaikh Shafiyyurrahman Al-Mubarakfuri

Pasca penaklukan Mekkah, tidak ada lagi tempat untuk meragukan dan menyangsikan risalah Rasulullah di seluruh jazirah Arab, bahkan berbondong-bondong masyarakat masuk kedalam agama Allah. Hanya saja masih ada satu kekuatan imperium besar yang masih menghadang perjalanan umat Muslim yaitu kekuatan Romawi, kekuatan militer terbesar di muka bumi pada zaman itu. Latar belakang penyebab perang Tabuk ialah dengan terbunuhnya duta Rasulullah Al Harits bin Umair ditangan Syurahbil bin Amr Al-Ghazanni, saat Al Harits membawa surat beliau yang ditujukan kepada pemimpin Bushra. Setelah itu beliau mengirimkan satuan pasukan yang dipimpin oleh Zaid bin Haritsah yang kemudian bertempur melawan Romawi di Mut’ah, dengan tanpa membawa hasil yang berarti. Romawi akhirnya membuat pilihan bahwa tidak ada alasan lagi melainkan untuk bertempur melawan orang-orang Muslim sebelum kekuatan mereka semakin berkembang dan mempengaruhi kekuasaan Romawi. Disisi lain di kalangan kaum muslimin tersebar informasi yang masih simpang siur mengenai persiapan pasukan Romawi untuk menyerang, sehingga muncul kekhawatiran dan kegundahan di hati kaum muslimin. Keadaan ini semakin diperparah dengan keberadaan orang-orang munafik yang seakan menggigit dari dalam, mereka telah melihat segala kekuatan yang dimiliki kaum muslimin, meskipun demikian mereka masih ingin mewujudkan kehancuran bagi Islam dan para pemeluknya, dan mereka melihat kekuatan Romawi ialah peluang yang sangat besar untuk menghancurkan Islam

Tersebar kabar Heraklius Raja Romawi telah menyiapkan 40.000 prajurit yang dipimpin oleh salah seorang pembesar Romawi, disamping ancaman diam diam dari orang munafik saat itu, keadaan semakin diperparah karena saat itu bertepatan dengan musim kemarau yang amat panas dan kering. Orang-orang menghadapi keadaan yang lebih sulit dan jarang menampakkan diri. Sementara buah-buah juga mulai masak, sehingga mereka lebih suka berada di kebun kebun buah dan keteduhan pepohonannya. Jarak yang amat jauh mereka harus tempuh jika harus berperang dengan pasukan Romawi. Rasulullah memandang bahwa keadaan dan perkembangan yang ada harus disikapi dengan bijaksana, apabila beliau bermalas-malasan dan menghindar dari Romawi maka Romawi akan dapat menjarah wilayah-wilayah yang telah tunduk kepada Islam, sehingga akhirnya Rasulullah pun mengambil sikap untuk bersiap berperang dan menyeru kepada seluruh kaum muslimin untuk siap berjihad dan mengeluarkan harta mereka. Setelah mendengar seruan Rasulullah kaum muslimin berlomba-lomba dalam melakukan persiapan perang, tak seorang pun orang muslim rela apabila dia sampai ketinggalan dalam peperangan kali ini, kecuali orang-orang yang dalam hatinya ada penyakit. Disamping berlomba-lomba dalam melakukan persiapan, mereka juga berlomba dalam menafkahkan harta dan mengeluarkan sedekah, Utsman dengan sekitar 900 onta dan 100 kuda, serta 1000 dinar, Abdurrahman bin Auf dengan 200 uqiyah perak, Abu Bakar dengan seluruh hartanya dan tidak menyisakan bagi keluarganya melainkan Allah dan Rasulnya, yang senilai 4000 dirham, Umar dengan separuh hartanya, dan masih banyak sahabat yang lain yang juga memberikan sedekah terbaiknya.

Pada hari Kamis, Rasulullah mulai bergerak ke Tabuk dengan membawa sebanyak 30.000 pasukan, 100 kali lipat dari jumlah pasukan ketika di Perang Badr. Mengingat jumlah pasukan yang sangat besar, maka persiapan dianggap masih kurang sempurna, sekalipun cukup bnyak sedekah yang sudah dikeluarkan. Pasukan Islam akhirnya tiba di Tabuk, dan siap untuk bertempur, Rasulullah berdiri dihadapan pasukan dan menyampaikan pidato penuh semangat dengan kata-kata yang memiliki kandungan makna yang sangat luas, menganjurkan kepada kebaikan dunia dan akhirat, memberi peringatan dan ancaman, serta memberikan kabar gembira dan kabar yang menyenangkan. Sebaliknya ketika pasukan Romawi mendengar bahwa Rasulullah telah menggalang pasukan, muncul ketakutan dan kekhawatiran yang merambat hati mereka, sehingga mereka tidak berani maju atau langsung merencanakan serangan. Mereka berpencar-pencar dibatas wilayah mereka sendiri. Karena itu Rasulullah didatangi Yuhannah bin Ru’bah, pemimpin Ailah yang menawarkan perjanjian perdamaian dengan beliau dan siap menyerahkan jizyah kepada beliau. Begitu pula yang dilakukan penduduk Jarba’ dan Adruj. Satu persatu berbagai kabilah yang tunduk kepada Romawi akhirnya mengambil keputusan untuk berbalik mendukung kaum muslimin, mereka meyakini bahwa para pemimpin sebelumnya yang tunduk kepada Romawi telah membuat langkah yang salah dan kini sudah habis masanya. Sehingga peperangan pun dimenangkan kaum muslimin tanpa secara harfiah melakukan adu pedang atau saling bunuh, kabilah-kabilah Romawi satu per satu tunduk melihat kekuatan kaum Muslimin yang begitu besar, dengan demikian wilayah kekuasaan pemerintahan Islam semakin bertambah luas, hingga langsung berbatasan dengan wilayah kekuasaan bangsa Romawi.

Pasukan Islam meninggalkan Tabuk dengan membawa kemenangan tanpa mengalami tekanan sedikitpun, dalam perjalanan ini Allah telah mencukupkan peperangan bagi orang-orang mukmin. Keberangkatan beliau ke Tabuk pada bulan Rajab dan pulang dari sana pada bulan Ramadhan. Peperangan ini memakan waktu selama 50 hari, di Tabuk 20 hari sedangkan sisanya dihabiskan di perjalanan pulang pergi, dan ini ialah peperangan Beliau yang terakhir kali. Orang-orang yang tidak ikut serta tetapi didalam hatinya masih terdapat keimanan seperti Ka’b bin Malik, Murarah bin Rabi’, dan Hilal bin Umayyah mendapatkan hukuman dengan melarang sahabat untuk berbicara kepada mereka bertiga, dan mereka mendapatkan hukuman pengucilan. Namun setelah beberapa hari lamanya, seiring dengan turunnya Surat At Taubah: 18, Allah menerima taubat mereka. Peperangan ini mempunyai pengaruh yang sangat besar bagi pamor orang-orang mukmin dan menguatkan mereka di jazirah Arab. Kini orang-orang mulai menyadari bahwa tidak ada satu kekuatan kecuali kekuatan Islam. Sisa harapan dan angan-angan yang masih bersemayam di hati orang-orang munafik dan jahiliyah mulai sirna. Sebelumnya mereka masih berharap banyak terhadap pasukan Romawi untuk melumat pasukan Muslimin, namun setelah peperangan ini, membuat mereka sudah kehilangan nyali dan pasrah terhadap kekuatan yang ada, karena mereka sudah tidak mempunyai celah dan peluang untuk melakukan konspirasi.

Kisah Perang Uhud

Uhud-Mountain-View

Referensi: Sirah Nabawiyah- Syaikh Shafiyyurrahman Al-Mubarakfuri

Kekalahan kaum kafir quraisy pada perang Badr melatarbelakangi tercetusnya perang Uhud, dimana kaum quraisy merasakan dendam yang sangat luar biasa dan ingin menuntut balas atas kekalahannya di Perang Badr. Mereka lantas mengumpulkan semua orang quraisy untuk menyumbangkan hartanya untuk melawan Muhammad, dan melakukan berbagai macam persiapan yang dibutuhkan untuk membalas dendam. Genap setahun, persiapan telah matang, komandan tertinggi dipegang oleh Abu Sufyan bin Harb, komandan pasukan kuda dipimpin oleh Khalid bin Walid dibantu Ikrimah bin Abu Jahl, dan bendera diberikan kepada Bani Abdid-Dar. Hewan pengangkut dalam pasukan Mekkah ini ada tigaribu onta, penunggang kuda ada dua ratus, dan yang mengenakan baju besi ada tujuh ratus orang.

Menanggapi situasi tersebut, mata-mata kaum Muslimin Al-Abbas bin Abdul Muththalib segera mengabarkan kepada Rasulullah di Madinah, sehingga Madinah berada dalam keadaan siaga satu. Rasulullah kemudian menggelar rapat untuk menentukan strategi yang akan dilakukan, awalnya beliau mengusulkan untuk menetapkan strategi defensive di Madinah, akan tetapi para sahabat yang lain lebih sepakat untuk melawan dan keluar dari Madinah. Sehingga akhirnya Rasulullah mengabaikan pendapatnya sendiri dan mengikuti pendapat mayoritas. Rasulullah membagi pasukannya menjadi tiga kelompok, yaitu:

  1. Kelompok Muhajirin, yang benderanya diserahkan kepada Mush’ab bin Umair Al Abdari
  2. Kelompok Aus, yang benderanya diserahkan kepada Usaid bin Hudhair
  3. Kelompok Khazraj, yang benderanya diserahkan kepada Al-Hubab bin Al-Mundzir Al Jamuh

Pasukan terdiri atas seribu prajurit, seratus prajurit mengenakan baju besi, dan lima puluh penunggang kuda. Menjelang pertempuran, sesaat sebelum fajar selagi shalat subuh hampir dilaksanakan dan musuh sudah dapat terlihat, tiba-tiba Abdullah bin Ubay membelot, sehingga tidak kurang dari sepertiga anggota pasukan menarik diri. Hal ini mencerminkan kemunafikan Abdullah bin Ubay karena dengan mundurnya sepertiga pasukan, maka diharapkan pasukan kaum muslimin jatuh mentalnya, sementara keberanian musuh semakin meningkat, sehingga akan mempercepat kehancuran Rasulullah dan sahabat. Akan tetapi hal tersebut nyatanya tidak menggetarkan semangat kaum muslimin atas izin Allah semangat kaum muslimin pun semakin membara. Setelah pengunduran diri kelompok Abdullah bin Umay, maka pasukan kaum muslimin hanya tersisa 700 prajurit. Di kaki bukit Uhud, Rasulullah kemudian membagi tugas pasukannya, ditunjukklah Abdullah bin Jubair bin An-Nu’man Al-Anshari Al-Ausi sebagai komandan datasemen pemanah yang menempati posisi diatas bukit. Beliau bersabda kepada pemimpin mereka, “Lindungilah kami dengan anak panah, agar musuh tidak menyerang kami dari arah belakang. Tetaplah di tempatmu, entah kita diatas angin ataupun terdesak, agar kita tidak diserang dari arahmu.” Selain itu Rasulullah juga telah mengatur untuk menjaga sayap kanan pasukan, menghadang kavaleri Quraisy yang dipimpin oleh Khalid bin Walid, serta barisan terdepan pasukan dipimpin oleh tokoh-tokoh gagah perkasa yang kemampuannya bisa disamakan dengan seribu orang. Sebelum pecah peperangan, pihak Quraisy berusaha menciptakan perpecahan dalam barisan kaum muslimin dengan mengirimkan surat yang berisikan, “Biarkanlah kami dengan anak paman kami, dan setelah itu kami akan pulang tanpa mengusik kalian, karena tidak ada gunanya kami memerangi kalian”. Akan tetapi sungguh keimanan kaum muslimin yang kuat tak tergoyahkan layaknya gunung, sehingga surat tersebut justru dibalas dengan balasan yang pedas. Disisi lain wanita-wanita Quraisy ikut memberikan semangat kepada pasukan Quraisy dengan melantunkan syair-syair, menabuh rebana, dan menggerakkan pasukan untuk terus berperang.

Akhirnya pertempuran pun meletus setelah duel antara Thalhah dari kaum Musyrikin dengan Az-Zubair dari kaum muslimin yang dimenangkan oleh Az-Zubair, setelah duel tersebut pertempuran semakin memanas terutama disekitar bendera. Sepuluh orang dari Bani Abdir-Dar yang bergantian memegang bendera kaum Musyrikin satu persatu berhasil dikalahkan oleh tokoh-tokoh kaum muslimin seperti Hamzah bin Abdul Muththalib, Sa’d bin Abi Waqqash, Ali bin Abu Thalib, Ashim bin Tsabit bin Abu Al-Aqlah dan Quzman. Pertempuran terus berkecamuk disetiap kancah peperangan, sementara iman menguasai barisan orang-orang muslim. Mereka menyerbu ke tengah pasukan musyrik layaknya air bah yang menjebol tembok bangunan. Ditengah pertempuran singa Allah Hamzah bin Abdul Muthalib terbunuh oleh Wahsy bin Harb seorang budak dari Jubair bin Muth’im. Wahsy mengikuti perang hanya bertujuan untuk membunuh Hamzah, karena jika ia berhasil membunuh Hamzah maka ia akan dimerdekakan oleh Tuannya, maka ketika ia berhasil membunuh Hamzah, ia langsung keluar dari peperangan. Sekalipun pasukan muslimin mengalami kerugian besar dengan terbunuhnya Singa Allah Hamzah, akan tetapi mereka tetap mampu menguasai keadaan, Abu Bakar, Umar bin Al-Khattab, Ali bin Abu Thalib, Az Zubai bin Al Awwam, Mush’ab bin Umar, dan tokoh muslimin lainnya menjadi penggerak utama yang berhasil memojokkan kaum Quraisy. Singkat cerita akhirnya kaum Quraisy kehabisan tenaganya, dan terpukul mundur oleh desakan kaum muslimin, akan tetapi ditengah kemenangan kaum muslimin, ternyata terjadi kesalahan fatal yang dilakukan oleh tim pemanah, ketika mereka melihat pasukan muslimin mengambil ghanimah yang ada di medan pertempuran, tim pemanah pun ikut tergoda dan pergi dari pos yang sudah diperintahkan oleh Rasulullah, padahal perintahnya ialah untuk tetap berada di atas bukit baik dalam keadaan menang ataupun kalah, hanya tinggal Abdullah bin Ubair dan Sembilan rekannya yang ada di bukit Uhud. Melihat celah tersebut, kaum Quraisy dipimpin oleh Khalid bin Walid memanfaatkan peluang tersebut, dan kembali menyerang kaum muslimin melalui atas bukit Uhud, hingga akhirnya kaum muslimin terdesak. Kaum muslimin kemudian terporak porandakan barisannya, dan akhirnya banyak sahabat yang syahid akibat hal tersebut, bahkan Rasulullah pun mencapai saat yang paling kritis dalam kehidupannya, gigi seri dan gigi taring beliau pecah, kepala dan bahu beliau pun terluka.

Dengan kondisi demikian, para sahabat segera mendatangi Rasulullah dan melindungi beliau, kaum muslimin pun akhirnya mundur. Melihat kaum muslimin mundur, kaum Quraisy merasa sudah menang dan tidak mengejarnya lagi bahkan tersebar kabar bahwa Rasulullah telah mati, sehingga semakin meningkatkan kesenangan kaum Quraisy dan kehilangan semangat untuk bertempur lagi. Dalam beberapa riwayat dikatakan bahwa korban yang mati dikalangan kaum muslimin ialah 70 orang, sedangkan dikalangan kaum musyrik ialah 20 orang. Meskipun demikian perang Uhud ini masih belum selesai, ternyata kesalahan fatal yang dilakukan oleh kaum Quraisy ialah tidak segera menghabisi seluruh kaum muslimin yang tengah terpojokkan saat itu, sehingga Abu Sufyan pun bukannya mendapatkan pujian, tetapi hinaan karena tidak berhasil mengalahkan seluruh kaum muslimin ketika mereka sedang kalah, menyadari hal itu Abu Sufyan pun akhirnya mengajak seluruh pasukan Quraisy yang lain untuk kembali ke Madinah untuk mengalahkan kaum Muslimin. Disaat yang sama, Rasulullah menunjukkan kecerdikan perang yang luar biasa yaitu dengan mengirimkan utusan yang mengatakan bahwa Muhammad pergi bersama rekan-rekannya dengan jumlah yang tidak pernah sebanyak itu, mereka marah meradang kepada kalian. Diriwayat lain dikatakan, dalam kondisi yang penuh luka, Rasulullah meningkatkan semangat kaum muslimin dan mengajak untuk menyerang kaum Quraisy yang saat itu mau menyerang kembali. Melihat kepulan debu yang sangat besar, kaum Quraisy menjadi gemetar dan akhirnya mereka mundur dan kembali ke Mekkah.

Dengan demikian, Perang Uhud ini menjadi perang yang tidak tuntas, masing-masing pihak mendapatkan kemenangan dan kerugian masing-masing. Apalagi kedua belah pihak menahan diri untuk tidak saling menyerang. Masing-masing pihak merasa mendapatkan keuntungan dan juga dapat menimpakan kerugian kepada pihak yang lain, sehingga kedudukan menjadi imbang. Kemudian kedua belah pihak pulang dan masing-masing merasa menang.

Hikmah yang dapat diambil dari kisah Uhud ini ialah:

  1. Memperlihatkan kepada orang-orang Mukmin akibat yang tidak menguntungkan dari kedurhakaan dan melanggar larangan. Tepatnya ialah tindakan para pemanah yang meninggalkan posnya di atas bukit, padahal Rasulullah telah memerintahkan untuk tidak meninggalkan tempat itu bagaimanapun keadaannya
  2. Jika diberikan kemenangan terus menerus, maka akan sulit untuk menemukan orang-orang yang munafik, tetapi dengan kejadian ini maka terlihat dengan jelas siapa siapa saja yang munafik sehingga kaum muslimin bisa menjadi lebih waspada.
  3. Kemenangan yang tertunda seringkali meremukkan jiwa dan meluluhkan kehebatan yang dirasakan. Namun orang-orang mukmin tetap sabar saat mendapatkan cobaan, sedangkan orang-orang munafik menjadi risau.
  4. Allah telah menyediakan bagi hamba-hambaNya yang mukmin kedudukan yang mulia di sisi-Nya, yang tidak bisa dicapai begitu saja. Tetapi Dia perlu menguji dan mencoba mereka, sebagai jalan bagi mereka untuk mencapai kedudukan tersebut.
  5. Mati syahid merupakan kedudukan para penolong agama Allah yang paling tinggi. Inilah yang dikehendaki Allah bagi mereka
  6. Allah ingin menghancurkan musuh-musuh-Nya, dengan menampakkan sebab-sebab yang memang menguatkan kekufuran mereka, karena mereka menyiksa para penolong-Nya. Dengan begitu, dosa orang-orang Mukmin terhapus dan dosa orang-orang kafir semakin menumpuk.

Kuatkanlah..

cahaya-islam

Inilah satu kata yang selalu aku ulang dalam menutup doa di setiap sujud dan shalatku..
Inilah satu kata yang selalu mengingatkan aku mengenai betapa lemahnya diri ini tanpa pertolongan-Nya
Dan inilah satu kata yang selalu memperkuat alasanku untuk terus berjuang,

Kuatkanlah..
“Kuatkanlah, Kuatkanlah dan Kuatkanlah!”

Kuatkanlah aku dalam menjaga segala amanah yang diberikan di pundak hamba-Mu ini yang lemah
Kuatkanlah aku yang sejatinya memiliki banyak kekhilafan dan kesalahan tapi sekarang sedang mencoba menjawab amanah yang Engkau titipkan
Kuatkanlah aku yang sudah mau terjatuh dan tergeletak tak berdaya untuk terus berjuang hingga akhir..
Kuatkanlah aku sebagaimana Engkau menguatkan saudara-saudaraku yang masih kecil di Palestina
Kuatkanlah aku sebagaimana Engkau menguatkan saudara-saudaraku yang tengah terzhalimi di Mesir, Suriah, dan berbagai belahan dunia lainnya
Kuatkanlah aku sebagaimana Engkau menguatkan para Rasul, Nabi, dan sahabat terdahulu..

Dan kini aku pun mencoba meyakinkan diriku..
Sebagaimana Salahuddin Al Ayubbi mengatakan dengan tegasnya ketika ia berkata, “Saya meminta KEKUATAN dan Allah memberi saya KESULITAN untuk membuatkan saya KUAT”
Maka sejatinya tidak ada alasan bagiku untuk menyerah dan menghindari kesulitan yang akan datang
Sesungguhnya hanya Dia lah yang Maha Perkasa dan Maha memberi kekuatan bagi hamba-hamba-Nya

Sudahkah Aku Menjadi Tuan Rumah yang Baik?

Image

Hari demi hari telah berlalu, waktu terasa mengalir begitu cepat dan semilir angin pagi seakan menegaskan bahwa hari telah berganti. Tidak seperti biasanya, akhir-akhir ini aku sangat bersemangat menyambut hari esok, menyambut hari yang belum tentu aku akan berada disana sebagaimana inginku. Alasannya sederhana, karena aku akan kedatangan tamu yang sangat istimewa. Tamu yang hanya datang satu kali dalam setahun, tamu yang selalu dinanti oleh seluruh umat Muslim karena disana terdapat berbagai kemuliaan yang tidak akan ditemui diwaktu yang lain.

Lantas aku berpikir kembali, apakah aku telah menjadi tuan rumah yang baik? Tuan rumah yang mempersiapkan rumahnya dengan berbagai persiapan yang sebelumnya jarang dilakukan. Tuan rumah yang memberikan wewangian ketika rumahnya berbau tidak sedap, tuan rumah yang segera menyapu dan membersihkan rumahnya ketika rumahnya kotor, atau tuan rumah yang mengganti gorden rumahnya yang usang dengan yang baru, hanya dengan satu tujuan yaitu menyambut tamu istimewa tersebut dengan sebaik mungkin. Dengan penuh semangat aku mengajak teman-temanku untuk menyambutnya, menanyakan bagaimana persiapan mereka, bahkan hampir setiap hari kuhitung mundur kedatangan sang tamu istimewa bersama teman-temanku yang lain.

Tetapi…

Disegala rutinitas harianku, rasanya belum ada yang berubah, semangat ini layaknya hanya terucap tapi tidak tercermin dalam diriku, aku masih terlena dengan urusan duniaku, intensitasku dengan gadget yang kumiliki sepertinya masih lebih besar dibandingkan dengan waktuku berduaan bersama firman-Nya, akupun jarang mencurahkan isi hatiku di akhir malam kepada-Nya, aku sering tertinggal untuk ibadah berjamaah, dan masih banyak kepayahan lain dari diriku ini, padahal Sang Tamu sudah didepan pintu rumahku, tapi seakan aku hanya menghias halaman rumahku saja dan lupa untuk membersihkan bagian dalamnya.

Aku sangat berharap disisa waktuku ini sebelum Sang Tamu mengetuk pintu rumahku, aku dapat membersihkan segala hal yang masih kotor dan belum rapi didalam rumahku ini, dan biarkanlah nanti tamuku menjawab pertanyaan sederhana ini,

“Apakah aku sudah menjadi tuan rumah yang baik?”