Dibalik Persatuan Partai Politik Islam

Image

Pemilu 2014 menjadi momen bagi partai berlandaskan Islam untuk menunjukkan eksistensinya, pasalnya partai Islam yang awalnya diprediksi akan mengalami penurunan suara, ternyata mendapatkan suara yang cukup siginifikan dari hasil quick count pemilu. Jika digabung total suara partai berbasis Islam bahkan bisa mencapai diatas 30%, mengalahkan perolehan suara partai Nasionalis. Fakta ini lantas membawa suatu isu untuk melakukan koalisi antar parpol berbasis Islam. Beranjak dari fakta tersebut maka muncul banyak pertanyaan seperti apakah mungkin parpol Islam bersatu? Siapa sosok yang kiranya dapat mempersatukan kepentingan seluruh parpol Islam? Dan berbagai pertanyaan lainnya, akan tetapi satu hal yang harus dijadikan sebagai pertanyaan mendasar ialah sebenarnya apa tujuan dibalik dibangunnya koalisi partai politik Islam ini sendiri? Pada dasarnya koalisi parpol Islam adalah hal yang sangat mungkin terjadi, apalagi dengan peluang yang sangat besar dari pemilu 2014 ini. Sejarah pun telah bercerita tentang keberhasilan koalisi parpol Islam pada tahun 1999 yang akhirnya dapat memajukan Gusdur dan mengalahkan Megawati. Terlepas dari berbagai potensi dan kemungkinan terbentuknya koalisi parpol Islam, mungkin lebih baik untuk merenungkan kembali tujuan dasar terbentuknya koalisi parpol berlandaskan Islam dalam konteks kepemimpinan bangsa.

Hakikatnya Islam merupakan agama yang menyeluruh dan bukan hanya berbicara mengenai aspek ibadah saja, tapi juga mencakup seluruh aspek lainnya dalam kehidupan termasuk politik. Tujuannya untuk menciptakan kebijakan yang amar ma’ruf nahi munkar dengan memberikan yang terbaik bagi warga Negaranya, bukan untuk unjuk kekuasaan ataupun mendiskreditkan golongan apapun. Pun partai Islam bukanlah penentang partai Nasionalis dan juga memiliki rasa Nasionalisme yang tinggi. Tidak ada perbedaan partai Nasionalis dan Islam kecuali hanya dalam batasan Nasionalisme yang ditentukan oleh aqidah, bagi partai Nasionalis batasan paham itu ditentukan oleh teritorial wilayah negara dan batas-batas geografis. Sedangkan bagi Islam, setiap jengkal tanah di bumi ini, di mana di atasnya ada seorang Muslim, maka itulah tanah air mereka. Mereka wajib menghormati kemuliaannya dan siap berjuang dengan tulus demi kebaikannya. Maka tidak ada yang salah dengan konsep Islam dalam perpolitikan. Hanya saja konstruksi sosial masyarakat terhadap aktor-aktor yang bermain dalam perpolitikan bangsa yang akhirnya mencederai kepercayaan mereka terhadap partai politik khususnya partai politik Islam.

Harus diakui saat ini tiap parpol Islam memiliki kepentingan dan agendanya masing-masing, serta belum memiliki pandangan yang sama terkait bagaimana mengelola negara meskipun memiliki landasan ideologis yang sama. Berbagai hambatan, kepentingan, dan tujuan yang berbeda antar partai juga menjadi tali kekang yang menghambat persatuan partai Islam. Jika memang persatuan parpol Islam dapat terealisasikan entah tahun ini atau suatu saat nanti, satu hal yang harus dipastikan ialah tujuan dasar persatuan ini. Parpol Islam harus menemukan titik kesepakatan yang sama untuk menentukan tujuan besar persatuan mereka, yang semestinya tujuan tersebut bukan hanya sebatas persatuan karena adanya kepentingan politik belaka, melainkan sebagai simbolisasi bahwa umat Islam bukanlah umat yang terpecah belah, dan dapat bergerak dalam harmoni dengan parpol Islam sebagai pengejawantahannya dibidang perpolitikan negara.

 

Advertisements

Pemilu: Sebuah Pesta dengan Visi

Image

Tinggal menghitung hari saja, pesta demokrasi di Indonesia akan segera digelar. Berbagai macam persiapan seperti bendera partai, spanduk dan baliho calon legislatif, poster, flyer dan berbagai atribut partai lainnya telah disebarkan di hampir setiap penjuru jalan dan rumah-rumah masyarakat. Bahkan mata kita pun telah termanjakan dengan tayangan-tayangan di televisi maupun pembahasan di media sosial terkait dengan pelaksanaan pemilu dan janji-janji calon legislatif ketika terpilih nanti. Ya, pagelaran akbar lima tahunan ini layak kita sebut sebagai pesta besar, mengingat besarnya jumlah masyarakat yang diharapkan dapat berpartisipasi serta besarnya anggaran yang dikeluarkan untuk melaksanakan agenda ini. Bahkan KPU menganggarkan kurang lebih 14 triliyun untuk pelaksanaan prosesi pemilu 2014, angka yang sangat luar biasa, yang bisa saja dialokasikan untuk perbaikan infrastruktur, pembangunan lapangan kerja, fasilitas kesehatan, pendidikan, dan sarana peningkatan kesejahteraan masyarakat lainnya. Dana yang dikeluarkan partai politik pun tidak bisa dibilang sedikit, tiap partai berlomba-lomba menyentuh hati rakyat dan berusaha menunjukkan eksistensi partainya.

Pesta akbar lima tahunan ini pada dasarnya bukan hanya sebagai sarana unjuk gigi tiap partai politik, melainkan memiliki visi besar didalamnya. Mau dibawa kemana Indonesia lima tahun mendatang akan dimulai dari suksesnya pelaksanaan pemilu tahun ini. Indonesia memiliki banyak sekali pekerjaan rumah yang belum terselesaikan dan tantangan global pun telah siap menyambut Indonesia. Permasalahan seperti infrastruktur, pendidikan, kesehatan, kemiskinan, dan sebagainya masih akan menemani siapapun pemimpin yang akan terpilih nanti. Tahun 2015, Indonesia yang telah tergabung dalam Asean Economic Community (AEC) harus siap meningkatkan daya kompetitif produk lokal dengan negara-negara ASEAN baik dalam segi barang dan jasa maupun persaingan sumber daya manusia. Selain itu arah pembangunan Indonesia pun akan ditentukan oleh kebijakan-kebijakan yang akan dibuat oleh pemimpin yang baru. Mengingat banyaknya tantangan dan pekerjaan rumah yang harus segera diselesaikan, maka Indonesia harus mendapatkan pemimpin yang berkualitas dan memiliki integritas yang tinggi. Hal itu lah yang menjadi visi besar dari pesta akbar ini, suatu pesta yang bukan hanya euphoria demokrasi belaka, melainkan suatu pesta yang akan menentukan kemunculan pemimpin baru dengan segala ide-ide dan kreatifitasnya untuk membawa arah Indonesia dalam menjawab berbagai masalah dan tantangan global yang akan dihadapi kedepannya.

Gerakan Pemuda Menjelang Pemilu

Image 

Pesta demokrasi lima tahunan akan segera datang hanya dalam hitungan hari, berbagai spanduk, poster, bendera dan atribut partai lainnya seakan menjadi hiasan wajib di tiap relung jalan yang terlewati. Mata kita pun termanjakan dengan tayangan televisi dan media sosial yang turut terwarnai oleh kampanye partai politik. Ya ini benar-benar pesta yang besar, pesta yang mencoba untuk mengajak seluruh warga Indonesia untuk turut berpartisipasi, pesta yang menghabiskan sejumlah besar dana yang mungkin jika dikumpulkan dana tersebut bisa dimanfaatkan untuk pembangunan infrastruktur ataupun untuk kegiatan peningkatan kesejahteraan masyarakat. Seakan terhipnotis oleh euphoria pesta lima tahunan ini banyak masyarakat yang akhirnya tergoda untuk ikut meramaikan prosesi pergantian kepemimpinan Indonesia. Tak menjadi masalah, bahkan sangat baik ketika memang peserta pesta ini ialah mereka yang telah tercerdaskan, mereka yang rasional dalam memilih dan telah memiliki preferensi partai politik yang sesuai dengan ideologi dan cita-cita pribadinya demi mencapai Indonesia yang lebih baik. Namun bagaimana dengan mereka yang sekedar ikut-ikutan meramaikan pesta? Mengambil keuntungan sejenak dengan janji-janji manis para calon pemimpin, menikmati suguhan-suguhan gratis yang diberikan dengan imbal balik memilih salah satu partai? Atau bagaimana dengan mereka yang sama sekali tidak ingin berpartisipasi dalam pesta ini? Mereka yang telah lelah dan tidak perduli lagi dengan perpolitikan negeri ini, mereka yang tidak mempercayai partai manapun dalam memimpin negeri, atau mereka yang bahkan tidak tahu sama sekali dengan adanya pesta lima tahunan ini.

Salah satu fenomena menarik ialah tahun ini telah muncul banyak pemilih muda, mereka yang baru pertama kali mengikuti pesta demokrasi ini dan memiliki semangat yang tinggi untuk memilih tetapi sayangnya banyak juga diantara mereka yang tidak peduli ajang pemilu ini. Lantas bagaimana menyadarkan mereka? Menyadarkan bahwa tiap suara penting dan kita harus berpartisipasi dalam penentuan pemimpin yang amanah bagi Negeri ini. Di titik inilah hadir berbagai gerakan pencerdasan politik oleh kaum pemuda, mulai dari gerakan di sosial media dengan menggunakan hashtag, soft movement yang digerakkan oleh teman-teman mahasiswa, hingga kajian-kajian kepemudaan yang saat ini sangat intens membahas mengenai kepemimpinan bangsa dan partisipasi rakyat dalam menentukan arah bangsa ini. Gerakan pencerdasan politik ini dilaksanakan dalam rangka meningkatkan angka partisipasi pemilu oleh kaum muda khususnya mereka yang awalnya bersikap apatis dengan isu pemilu. Berbagai macam gerakan pencerdasan politik oleh kaum muda seakan mengatakan bahwa kalangan muda Indonesia telah lelah dan bosan dengan berbagai permasalahan yang melanda Negeri ini, dan menyatakan dengan tegas bahwa rakyat akan senantiasa mengawal prosesi pergantian pemimpin bangsa ini demi mencapai Indonesia yang lebih baik dengan terpilihnya pemimpin yang amanah dan terpercaya.

The Art of Development

Image

Pengembangan manusia merupakan konsepsi untuk menciptakan pribadi-pribadi yang lebih baik dari sebelumnya, ia merupakan aktifitas seni karena membutuhkan keterampilan dan kreatifitas dari pihak pengembang. Hal menarik ketika kita menjadi seorang yang berfokus pada aktifitas pengembangan manusia maka secara tidak sadar pribadi kita akan turut berkembang menjadi lebih baik. Semakin banyak orang yang kita optimalkan kemampuannya, diberikan pemahaman mengenai seberapa hebatnya makhluk bernama manusia, dan segala potensi yang dimilikinya, maka potensi-potensi tersembunyi dalam diri kita pun akan turut keluar.

Banyak unsur yang terlibat ketika kita berbicara mengenai kegiatan pengembangan manusia, kita berbicara mengenai motivasi, pelatihan, pemahaman diri, karakter, dan lain sebagainya. Seluruh unsur tersebut ibarat warna-warna dalam cat air yang kita gunakan untuk menciptakan lukisan terbaik, dimana hasil lukisan tersebut ialah terbentuknya pribadi yang memiliki skill dan kompetensi terbaik yang berguna di bidangnya.

Salah satu unsur dalam aktifitas pengembangan ialah “penguatan”, bagaimana kita dapat meyakinkan orang lain bahwa ia merupakan pribadi yang istimewa dengan segala potensi yang tidak dimiliki oleh orang lain. Dalam bukunya Maxwell menceritakan seorang program liaison dari Los Angles yang mengatakan, “Kita membutuhkan pemimpin yang dapat menyemangati orang dan menciptakan pemimpin lain. Sudah tidak memadai lagi bagi seorang manajer untuk hanya memastikan setiap orang memiliki sesuatu untuk dikerjakan dan dapat menghasilkan sesuatu. Saat ini, semua pekerja harus melakukan buy in dan merasa memiliki segala sesuatu yang sedang mereka kerjakan. Untuk memupuk hal itu, penting sekali untuk mendorong mereka membuat keputusan paling langsung menyentuh diri mereka. Itulah cara membuat keputusan yang terbaik. Itulah inti dari penguatan”.

Sejatinya aktifitas penguatan tidak jauh berbeda dengan proses marketing, bedanya yang kita internalisasikan dan coba kita pasarkan ialah lebih dari sekadar produk biasa yang diciptakan manusia, melainkan potensi yang dimiliki setiap orang sebagai anugrah yang diberikan Tuhan.

Pengembangan manusia merupakan aktifitas yang sangat menyenangkan, ibarat memberikan warna terbaik pada kanvas kosong, maka aktifitas pengembangan ialah tentang bagaimana kita dapat menjadi tangan Tuhan yang membantu orang lain untuk memahami dirinya, memberinya warna, dan membuat dirinya menjadi pribadi yang lebih baik, yang dapat memberikan manfaat yang nyata pada bidang yang ia kuasai.  Ya, itulah seni pengembangan.

Life is all about Action!

Image

Seribu kata yang terucap tidak akan memberikan kesan sedalam satu perbuatan yang kita lakukan.”

Tulisan ini berawal dari kekaguman penulis yang sangat mendalam pada orang-orang yang berani bertindak, ia yang terus bergerak meski tahu risiko yang akan dialami, ia yang berani bertanggungjawab dalam keputusan yang dibuatnya, ia yang tak pernah mengeluh atas kegagalan akibat kesalahan yang dilakukan, dan ia yang memberi contoh melalui keteladanan bukan sekadar manisnya kata, maka ia ialah sebaik-baiknya pemimpin. 

Hidup ini merupakan sekumpulan tindakan dan pilihan bukan sekedar gagasan idealita yang keluar dari pikiran. Setiap tindakan ialah pilihan, apakah kita mau bergerak atau tidak ialah pilihan, apakah kita ingin bercengkrama dengan gagasan yang keluar tanpa menjalankannya pun juga merupakan pilihan. Tetapi lihatlah orang-orang besar saat ini, mereka ialah pribadi-pribadi yang luar biasa, mereka yang memilih untuk bertindak, membuat perubahan dengan menghadapi ketakutan yang mewarnai dirinya.

Bukan berarti segala teori yang telah diciptakan oleh generasi-generasi pendahulu merupakan hal yang tidak bermanfaat. Jelas teori dan konsep merupakan faktor yang sangat penting dalam ilmu pengetahuan dan proses pengambilan keputusan, tidak ada yang menyanggah hal tersebut. Tanpanya segala aktifitas yang dikerjakan tidak akan matang dan segala pilihan akan diwarnai keraguan, hingga akhirnya tidak akan memberikan hasil yang terbaik.

Tetapi sejatinya segala teori, gagasan-gagasan idealita, curahan berpikir, dan apapun yang keluar dari pemikiran setiap orang tidak akan memberikan manfaat yang nyata tanpa ada realisasi dan tindakan yang mengiringinya. Banyak orang yang hidup di dunia ini berharap terjadi perubahan dalam hidupnya, mereka ingin mengubah situasi hidupnya, mereka sudah memiliki visualisasi yang baik, konsep ideal hidup yang diimpikan, akan tetapi hanya sedikit orang-orang yang akhirnya mengambil tindakan kearah sana. Bukan berarti penulis telah melakukan hal tersebut, akan tetapi poin yang harus menjadi pengingatan bagi penulis dan  bagi kita semua ialah bagaimana kita memaknai hidup ini dengan segala potensi kemampuan kita. Tuhan memberikan kondisi, tetapi kitalah yang menentukan sikap, mau bertindak ataupun diam merupakan pilihan, hal tersebut sepenuhnya ada dalam kuasa kita.

Karena hidup hanya sekali, maka buatlah hidup ini berharga.

 

Hanya Cambuk Kecil

 Image

“Anugrah dan bencana adalah kehendakNya, kita mesti tabah menjalani, hanya cambuk kecil agar kita sadar, adalah Dia diatas segalanya”  -Ebiet-

Awal tahun 2014 menjadi momen yang cukup meninggalkan bekas mendalam bagi Indonesia. Beruntun terjadi berbagai ujian yang dialami masyarakat, dimulai dari banjir di Jakarta, peristiwa Sinabung, dan hingga yang terbaru ialah meletusnya Gunung Kelud di daerah Jawa Timur . Hal ini mengingatkan kembali kita pada banyaknya bencana yang telah menimpa Indonesia, sebut saja Tsunami, gempa bumi, longsor, dan lain sebagainya. Pertanyaan yang muncul kemudian ialah mengapa di bumi pertiwi ini banyak sekali terjadi bencana.

Tepat sekali sepertinya lantunan bait yang tertulis dalam lagu ciptaan Ebiet..

“Mungkin Tuhan mulai bosan melihat tingkah kita yang selalu salah dan bangga dengan dosa-dosa, atau alam mulai enggan bersahabat dengan kita..”

Tentu kita tidak bisa menyalahkan alam atau bahkan Tuhan dalam memandang bencana yang terjadi. Lantas hal yang harus kita renungkan ialah bagaimana sikap kita sebagai mahkluk yang telah diamanahkan sebagai pemimpin di Bumi ini. Sejatinya Tuhan tidak mungkin memberikan ujian tanpa ada penyebab yang jelas, mungkin kita harus merefleksikan kembali apa yang selama ini terjadi, penebangan liar dimana-mana, sampah yang tidak dibuang pada tempatnya, korupsi yang merajalela, aksi kriminalitas yang mewarnai kehidupan, dan berbagai permasalahan lainnya masih menjadi bersahabat dalam kehidupan masyarakat Indonesia.

Kesadaran adalah modal utama untuk membawa perubahan yang lebih baik, tanpa kesadaran dari seluruh elemen masyarakat terkait untuk menciptakan kehidupan yang lebih baik dengan cara-cara yang benar, maka mungkin hanya cambuk kecil pengingatan yang dapat membuat kita semua bisa sadar akan amanah menjaga bumi yang Allah titipkan ini.

Dan ketika setiap insan memiliki kesadaran yang sama, tujuan yang jelas, dan tindakan yang harmonis untuk menjadi pribadi yang lebih baik dan berusaha menciptakan bumi yang lebih baik demi generasi selanjutnya, maka mungkin alam akan kembali bersahabat dan memberikan senyuman kecilnya sembari mengucapkan “terima kasih”.

Taktik Mempengaruhi Seorang Pemimpin

Image

Referensi: Andrew J. DuBrin, Principles of Leadership, Sixth Edition, Canada: Nelson Education, Ltd, 2010.

Tanpa taktik mempengaruhi yang efektif, seorang pemimpin seperti seorang pemain bola yang  tidak belajar untuk menendang bola, atau mungkin seorang pembawa berita yang tidak dapat berbicara. Kepemimpinan merupakan proses mempengaruhi. Untuk menjadi pemimpin yang efektif, seseorang harus lebih memperhatikan secara spesifik taktik yang digunakan untuk mempengaruhi orang lain. Dalam bab ini kita akan mendiskusikan sejumlah taktik spesifik untuk mempengaruhi, meskipun aspek lain dalam kepemimpinan nantinya juga akan mempengaruhi kemampuan menggerakkan orang lain. Sebagai contoh, pemimpin yang kharismatik akan lebih mudah mempengaruhi orang lain, dengan kekuatan dan kekuasaan mempengaruhi bukanlah hal yang sulit, selanjutnya kemampuan motivasi dan pelatihan juga akan mempengaruhi orang lain untuk bergerak.

Konsep influence and power kadang-kadang digunakan secara terbalik, di satu sisi kekuatan akan menciptakan kemampuan untuk mempengaruhi, disisi lain kemampuan mempengaruhi juga dapat menciptakan kekuatan. Pengaruh merupakan kemampuan untuk mempengaruhi perilaku orang lain kedalam suatu arah tertentu.Taktik mempengaruhi tumbuh menjadi sesuatu yang penting karena banyak sekali pemimpin atau professional perusahaan yang  harus dapat mempengaruhi orang lain tanpa memiliki otoritas formal atas orang lain. Sebagai contoh wakil presiden google ketika harus melobby teknisi Gmail yang tidak bekerja padanya untuk memodifikasi software  untuk mendata customer potensial.

Faktor lain yang berkontribusi dalam taktik mempengaruhi ialah karyawan sering meragukan pemimpinnnya, khususnya CEO. Chapter ini akan menggambarkan model dari kekuatan dan pengaruh, sebuah deskripsi dan penjelasan taktik mempengaruhi (baik secara etis maupun kurang etis), sebuah deskripsi bagaimana pemimpin mempengaruhi perubahan yang besar, dan sebuah ringkasan dari penelitian tentang efektifitas relatif dan peruntunan dari taktik mempengaruhi. Disini juga akan dipresentasikan teori mengenai ekspektasi anggota grup terhadap seorang pemimpin dalam rangka untuk dipengaruhi olehnya.

 

Model Kekuatan dan Pengaruh ( A Model of Power and Influence)

Image

 

Model diatas mengilustrasikan bahwa hasil akhir dari pengaruh pemimpin (outcomes) adalah suatu komitmen yang utuh, kepatuhan, atau bahkan resistensi dari orang yang kita pengaruhi. Taktik mempengaruhi akan dimoderatori atau dipengaruhi oleh ciri atau karakter pemimpin, perilaku pemimpin dan situasi yang terjadi.

Komitmen adalah hasil terbaik, dimana orang yang menjadi target dari proses mempengaruhi ini akan secara antusias menjalankan apa yang diminta dengan usaha terbaik yang bisa dilakukan. Komitmen ini sangat penting untuk sesuatu yang kompleks, tetapi merupakan tugas yang berat karena membutuhkan konsentrasi dan usaha yang penuh dari orang yang menjalankannya.

Kepatuhan (Compliance) berarti pengaruh upaya mempengaruhi ini sebagian telah berhasil, target orang yang dipengaruhi memiliki sikap apatis (tidak terlalu gembira) tentang melaksanakan permintaan tersebut dan hanya membuat upaya sederhana. Orang yang mempengaruhi hanya merubah tindakan seseorang tapi tidak merubah sikap orang tersebut. Seorang sopir truk jarak jauh mungkin memenuhi tuntutan bahwa ia hanya akan tidur di jam-jam tertentu antara tempat tujuan yang ia tuju, tetapi ia tidak menjadi antusias dalam mengerjakan pekerjaannya. Kepatuhan lebih kepada tugas rutin yang dijalankan, seperti menggunakan topi pengaman pada daerah konstruksi. Artinya mereka hanya sekadar patuh tanpa ada pemahaman mendalam didalamnya mengapa mereka harus patuh.

Resisten (Resistence), adalah akibat dari taktik mempengaruhi yang dapat dikatakan gagal, orang yang dipengaruhi melawan untuk menjalankan apa yang diminta dan mencari jalan lain untuk tidak melakukan pekerjaan tersebut. Resisten termasuk membuat alasan mengapa suatu tugas tidak bisa dilaksanakan, menunda-nunda pekerjaan, atau secara terang-terangan menolak tugas yang diberikan.

Berpijak kebagian kiri dalam model diatas, ciri-ciri personal atau karakter pemimpin sangat berhubungan dengan hasil dari taktik mempengaruhi. Seorang pemimpin yang ekstrovert dan hangat  dimana ia juga memiliki karisma akan lebih mudah menggunakan taktik mempengaruhi dibandingkan dengan pemimpin yang introvert dan dingin. Sebagai contoh seseorang membuat suatu seruan yang menginspirasi. Seorang pemimpin sangat cerdas akan mampu mempengaruhi orang lain dengan mudah karena ia telah membangun reputasi sebagai ahli dari subyek tersebut. Apapun taktik memengaruhi pemimpin yang dipilih, tujuannya adalah untuk mendapatkan anggota kelompok pada nya atau sisinya.

Perilaku pemimpin juga berhubungan dengan hasil dari taktik mempengaruhi dalam berbagai jalan, biasanya karena taktik mempengaruhi adalah aksi atau perilaku. Sebagai contoh, seseorang yang memberikan contoh dalam pengerjaan sesuatu akan lebih mudah diikuti, seperti seorang sekretaris manajer yang giat dan ramah akan menjadi role model yang baik bagi mereka yang ingin menjadi sekretaris manajer juga. Artinya ketika seseorang dapat melihat apa yang dilakukan orang lain, maka akan lebih mudah untuk diikuti, dibandingkan jika kita hanya memberikan arahan instruksional saja.

Terakhir, situasi juga memberikan kontribusi dalam hasil taktik mempengaruhi. Struktur atau subkultur organisasi  adalah salah satu faktor kunci dari aspek situasi ini. Kita ambil contoh, dalam lingkungan yang berbasis teknologi tinggi, perintah atau arahan yang bersifat emosional akan tidak seefektif ketika kita menggunakan persuasi yang rasional dan menjadi subjek yang ahli dibidangnya, karena pekerja yang berbasis teknologi tinggi akan lebih menyukai sesuatu yang berdasarkan fakta dan bukan perasaan.